SAHABAT SMA PERTAMAKU

Tubuhnya tinggi. Wajahnya teduh, menandakan bahwa dia orang baik, sepertiku. Suaranya merdu, layaknya seorang penyiar radio, beda denganku. Aku ingat pertemuan pertamaku dengan dia. Aku termasuk pendaftar golongan pertama kala itu. Mamiku, seorang wanita yang ramah memperkenalkanku ke banyak orang yang sekiranya nanti bakal satu SMA denganku, berharap bahwa anak yang ditinggalkannya di Pesantren mendapatkan seorang teman di hari pertamanya. Aku diantarkan mamiku, sementara dia diantarkan oleh ayahnya.

Saat itu, dia tinggal di Kalimantan. Dia nomaden, karena pekerjaan ayahnya di suatu perusahaan kontraktor yang mengharuskannya hidup seperti itu. Dia juga pernah tinggal di Aceh. Pertemuan pertama amat singkat dan hanya sekadar basa-basi saja, apalagi saat itu aku cenderung tidak berminat untuk menjalin pertemanan dengan siapapun.

Aku merupakan orang yang sangat jaim dan gensian. Beberapa hari di Pesantren aku belum mendapatkan satu pun orang yang bisa disebut teman, bahkan untuk orang-orang yang tinggal satu asrama denganku. Aku teringat pesan kakak pertamaku, β€œBerikanlah bantuan kepada banyak orang dengan hati yang tulus.” Aku menemukannya dalam keadaan kesulitan. Dia mendapatkan seragam sekolah yang kekecilan. Aku yang cenderung lebih berani, membantunya untuk komplain. Tentu saja aku tidak tulus 100%. Ada sedikit keinginan untuk berteman setelah ini.

Sejak saat itu, aku bertambah dekat dengannya. Tidak jarang aku berangkat sekolah bersama, meskipun aku tidak satu asrama (jaraknya tidak begitu jauh). Kita juga tidak satu kelas saat kelas X. Aku kelas X-2, sedangkan dia kelas X-1. 6 bulan kemudian, dia pindah asrama, jauh dari asramaku, karena dia menderita alergi asap rokok. Aku sungguh merasa kehilangan. Waktu kebersamaan kita berkurang, hanya ada di sekolah. Sebelum dia pindah, kita biasa menghabiskan waktu senja di depan Masjid Induk, sambil berbincang dengan Ust. Ali. Kita juga sering belajar malam bersama di Masjid, meskipun sejatinya kita tidak pernah benar-benar belajar karena ada seseorang yang selalu datang menggangu-lebih tepatnya mencairkan suasana, bernama Dio.

Aku tidak melakukan banyak hal untuknya, bahkan aku tidak mampu melobi agar dia bisa tinggal satu asrama denganku. Masa-masa setelah dia pindah tertebus saat kenaikan kelas. Pengumuman penempatan kelas baru merupakan suatu hal yang mendebarkan bagiku. Aku berharap-harap cemas setidaknya aku memiliki satu teman sekelas yang cukup dekat denganku. Tuhan mengabulkan harapanku, dia satu kelas denganku di XI IPA-1. Tentu saja aku duduk sebangku dengannya. Satu kelas dengannya merupakan salah satu hal yang paling kusyukuri selama satu tahun di kelas XI IPA-1.

Sejak aku satu kelas dengannya, aku berhenti mencari teman lagi. Cukup dia seorang, sebagai sahabatku. Jika aku memberikan bantuan pada orang lain, aku benar-benar tulus, tanpa mengharapkan mereka akan berteman denganku. Puncak persahabatan kita berdua, ketika banyak orang (aku tidak menyebut mereka sebagai teman, karena mereka memang bukan temanku) mencemooh sahabatku sebagai pengikut setiaku. Aku tahu bagaimana sakitnya perasaan sahabatku akan cemooh tersebut. Tentu saja aku tidak tinggal diam, apalagi kepada orang yang mengatakan terang-terangan. Akan tetapi, di sisi lain aku tidak ingin mengotori tanganku. Aku rasa cukup dengan mulut berbisaku bisa menghentikan cemooh mereka. Memang benar mereka berhenti, akan tetapi sekarang aku menyesal. Aku masih kurang baik pada sahabatku itu. Seharusnya, aku mau mengotori tanganku demi dia.

Persahabatan kita berdua memang terkenal seantero sekolah. Ada aku, maka ada dia. Ada dia, maka ada aku. Aku tidak pernah sekalipun merasa bahwa aku lebih superior dibandingkan dia, begitu sebaliknya dia tidak pernah merasa menjadi pengikutku. Memang harus diakui bahwa ide untuk bersenang-senang kebanyakan datang dariku, karena memang otakku dirancang untuk menghasilkan ide bersenang-senang bersama. Kabur ke UKS, perpustakaan, kantin atau sekadar tidak ikut kelas olahraga merupakan kebiasaan kita berdua. Kita berdua juga seakan-akan memiliki tiket bebas keluar-masuk sekolah oleh satpam sekolah saat itu. Aku menyebutnya sebagai tiket persahabatan.

Hidupku benar-benar bahagia saat itu. Berkat dia. Seorang siswa yang seharusnya tertekan dengan beban sekolah, apalagi dengan 3 kurikulum sekaligus (kurikulum umum, Cambridge, dan pondok), tapi tidak denganku. Kehidupan SMAku sangat penuh dengan canda tawa, karena dia. Dibalik keputusan setengah hatiku menuntut ilmu di Pesantren, aku ditemukan dengannya. Dibalik kedua orang tuaku meninggalkanku di Pesantren, mamiku mengenalkanku padanya.

Aku tidak satu kelas ketika menginjak kelas XII. Aku juga tidak satu kampus saat menempuh kuliah. Aku juga tidak satu perusahaan saat bekerja. Tapi, kita masih bersahabat sampai sekarang. Kita berdua memiliki keinginan untuk backpackeran bersama, untuk menguji seberapa kuat persahabatan kita berdua. Soon.

 

To my best friend, Ahmad Zaki :

You are a very good person. Keep be yourself. Live with joy and smile. Believe me, your life will continue to be protected by God, because God always protects good people.

Writer : Bayu Rakhmatullah

2