Dua Puluh Sembilan

By | February 24, 2024

Sore itu, aku duduk di dekat jendela kamarku, memandangi rintik-rintik hujan yang membasahi bumi. Aroma tanah yang khas menyeruak di udara. Tangan kananku memegang garpu, menusukkannya ke cilok berwarna putih, mencelupkan ke saos kacang, lalu memasukkan ke dalam mulut. Aku mulai mengunyah, terasa keju yang lumer di dalamnya. Kemudian, aku makan anggur dan minum coca-cola.

Itu adalah perayaan kecil-kecilan untuk ulang tahunku. Aku menginjak usia dua puluh sembilan tahun.

menua

Sumber : Unsplash

Time flies. Tahun ini adalah tahun terakhirku berusia 20s. Menengok ke belakang, 20s merupakan masa yang penuh gelojak, penuh perjuangan, naik-turun, dan nano-nano. Ada quarter life crisis. Sama sekali tidak mudah, beruntung aku berhasil melewatinya, meski terseok-seok.

Dua puluh sembilan tahun. Tahun depan tiga puluh tahun. Dan aku amat menantikannya. Aku mengimani pernyataan ini: “Things will be fine when you turn 30.”

Aku menyalakan rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan asapnya lewat hidung dan mulut. Asap mengepul di udara, dibawa angin sore entah ke mana.

Ternyata, menua itu tak buruk-buruk amat. Aku semakin mudah menikmati hal-hal yang sederhana. Minum kopi di pagi hari, mengamati burung yang hinggap di ranting pohon, memandangi hujan, langit biru atau sunrise dari jendela, menanti matahari benar-benar hilang di ufuk barat, makan bakso/mie saat hujan sudah cukup membuat hatiku berbunga-bunga. Bahkan hingga detik ini aku merasa bahagia setiap beranjak tidur. Di mana saat kecil dulu aku membenci tidur siang, atau saat remaja dulu aku cenderung melewatkan hal-hal yang sederhana itu begitu saja.

Aku masih duduk di dekat jendela, sambil mengunyah berbagai jenis camilan. Hujan semakin deras. Terdengar lagu Warped Window—Anna Mieke melalui tabung mp3ku.

Thought of you in the deep of my sleep

Thought of you in the depth of my night

Thought of you in the dar…

Darkest of days

Lagi-lagi imaji tentangmu muncul di kepalaku saat hujan seperti ini. Dua puluh sembilan tahun. Aku masih saja sendiri, single, jomblo—entah apa lagi sebutannya. Berkali-kali gagal dalam perkara romansa. Padahal tahun lalu aku sudah bertekad untuk mencintai siapapun, tidak playing games, mencintai seutuhnya, namun asmara tetap saja tak singgah di hidupku.

Baca juga :   Biarkan Waktu yang Bekerja

Kurangku apa? Banyak! Salahku apa? Banyak!

Ya, emang belum ketemu orang yang tepat aja. Itu jauh lebih menenangkan, comforting, daripada mencari-cari kesalahan diri sendiri, yang seringkali menyakitkan. Bukan gayaku pula.

Kiranya aku memang sudah berdamai, mulai menerima jika genre romance memang tidak ada dalam hidupku. Toh, aku nyaman dengan diriku sendiri, kan? I enjoy my own company.

Dua puluh sembilan tahun. Aku semakin “akur” dengan keluargaku. Aku dekat dengan kedua kakakku, dan akrab dengan ketiga keponakanku. Meski harus kuakui bahwa aku jauh dari kata family man.

Tidak akan konflik yang berarti diantara kita, sebab kita menghormati batasan masing-masing. Pendewasaan.

Angin sore membelai wajahku. Usiaku bertambah satu tahun—atau berkurang satu tahun? Ada satu lagi kabar gembira dari menua. Kamu lebih tahu apa yang kamu inginkan—bisa mencapainya atau tidak itu perkara lain. Selamat menua, Bay…

Pasuruan, 2 Februari 2024.

Author: Bayu Rakhmatullah

Seorang anak muda yang ingin menjadi petualang sejati.

Mari Berdiskusi