4 PERTANYAAN YANG DILARANG UNTUK DITANYAKAN

Masih banyak orang Indonesia yang tidak belajar dari pengalaman. Pertanyaan-pertanyaan yang dianggap banyak orang tidak boleh ditanyakan, masih saja ditanyakan oleh kebanyakan orang. Sekali lagi, padahal daftar pertanyaan ini sudah menjadi rahasia umum dan tersebar dimana-mana.

Kapan lulus? Kapan kerja? Kapan menikah? Kapan punya momongan? Ini merupakan rahasia umum, bahwa keempat pertanyaan tsb sangat tidak layak untuk ditanyakan. Tapi, aku heran, kenapa masih banyak yang mengajukan pertanyaan tsb ke orang lain, sehingga banyak juga yang mengeluh (orang yang ditanyai) akan hal tersebut.

Basa-basi? Hahaha. Hello? Bahkan basa-basi itu memiliki aturan tersendiri. Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan selain 4 pertanyaan tsb untuk basa-basi, seperti “udah makan?”, “udah nonton film ini gak?”, “udah pernah kesini gak?”, dan masih banyak yang lainnya. Suer deh, basa-basi gak harus dimulai dengan pertanyaan, “kapan kerja? Udah punya momongan belum”. Bukannya menjadi awal pembicaraan, 4 pertanyaan tsb bisa menjadi akhir dari pembicaraan.

Peduli? Bitch please! Please jangan berdalih terus. Jika memang kalian peduli, tak perlu menanyakan hal tersebut. Jika kalian tidak bisa membantu ; membantu untuk lulus ; mencarikan kerja ; mencarikan jodoh ; membantu punya momongan (ini gimana coba? Haruskah… ? Wkwkwk 🙄 ), please jangan tanya hal tersebut.

Ijinkan aku menceritakan 2 kisah yang berhubungan dengan pertanyaan ini, agar bisa dijadikan pengalaman bersama.

Kisah pertama. Aku punya teman dekat perempuan, yang jika kita berdua bertemu, pasti ada aja topik pembicaraan yang kita berdua perbincangkan. Kita memang tidak bersahabat, tapi kita benar-benar akrab satu sama lain. Suatu ketika, aku menanyakan salah satu dari keempat pertanyaan tersebut. Karena aku merasa sudah akrab dan dekat, aku merasa berhak dan tidak segan sama sekali untuk menanyakan hal tersebut. Tapi kemudian, dia mengajakku berbincang empat mata sekaligus traktiran yang sempat aku janjikan padanya. Dia menceritakan bahwa dia sangat tertekan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan orang lain (kapan punya momongan?), termasuk dariku.

Kisah kedua. Aku pernah mengikuti suatu kegiatan di luar negeri, Malaysia. Pesertanya berasal dari berbagai Negara, seperti Autralia, Vietnam, Hongkong, Taiwan, China, Afrika, Amerika Serikat, dan masih banyak yang lainnya. Setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama, malam terakhir kita semua diberikan waktu bebas untuk menjelajah Kuching. Ada yang menghabiskan waktu di hotel, bar terdekat, atau restoran. Aku termasuk yang menghabiskan waktu untuk makan di restoran (wkwkwk). Kurang lebih ada 10 orang yang makan bersama di restoran, termasuk salah satunya wanita yang berasal dari China. Namun, 3 diantaranya (aku, teman indonesiaku, dan wanita China) memutuskan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu. Dalam perjalanan pulang aku berbincang-bincang tentang hal yang lebih pribadi dengan wanita China tersebut. Aku tahu betul bahwa usia merupakan hal terlarang untuk ditanyakan, apalagi untuk seorang perempuan. Ada banyak yang kita bahas dalam perjalanan pulang. Sampai pada pertanyaan, “punya anak berapa?” dia tidak menjawab pertanyaanku lagi. Sempat aku memaksa, namun dia tetap bersikeras untuk tidak menjawab pertanyaanku.

Ketika aku sudah merasa dekat dan akrab, aku seolah-olah merasa berhak untuk mengetahui tentang (sedikit) kehidupan pribadinya. Bahkan tak jarang aku memaksa untuk tahu atau merasa sakit hati ketika pertanyaanku tidak dijawab. Aku teman dekatnya bukan? Kita sudah dekat dan akrab loo. Aku berhak mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang aku ajukan. Dalam kasusku dengan orang China tersebut, aku bahkan sempat mengeluh pada temanku Indonesia bahwa orang China terlalu tertutup. “Pertanyaan itu doang looo” ketusku.

Aku salah besar. Hari-hari berlalu. Aku merenungi bahwa pemikiran dan tindakanku saat itu begitu menjijikkan. Maksudku, aku aja yang sekali ditanya salah satu dari 4 pertanyaan tersebut langsung sakit hati. Aku langsung naik pitam dan ingin menghajar orang yang bertanya padaku. Aku sangat egois dan tak tahu diri, tak mau ditanya, tapi terus bertanya hanya karena merasa sudah akrab dan dekat. Sungguh menjijikkan. Tentu saja aku tidak ingin menjadi sosok yang “menjijikkan” tersebut. Aku ingin menjadi sosok dewasa yang baik, yang bisa memahami hati orang lain dengan baik. Namun, tak lantas sepulangnya aku dari Malaysia, aku langsung menjadi sosok yang lebih baik dan bijaksana. Tidak. Butuh waktu memang, tapi tetap harus dicoba. Kalian pun juga begitu. Jangan menjadi sosok yang “menjijikkan” seperti itu.

Aku termasuk orang yang sangat jarang sekali diserang dengan 4 pertanyaan tersebut (oh, minus “kapan punya momongan ya?”. Wkwkwk 😆 ). Mimik, gestur tubuh, bahasa tubuh, dan impresiku menunjukkan bahwa aku tidak bisa “diserang” dengan pertanyaan tersebut. Orang yang kenal aku pun tahu, bahwa aku tidak akan tinggal diam jika mereka “menyerangku”. 😎 

Ijinkan aku berbagi sedikit tips, agar kalian terhindar, atau seenggaknya mulai berkurang ditanyai dengan pertanyaan yang menyebalkan tersebut terus-terusan. Ada dua macam serangan di zaman sekarang, yaitu melalui media sosial dan secara langsung. Untuk media sosial, mudah sekali. Komentar-komentar dengan pertanyaan tersebut cukup kalian hapus saja. Jika masih terus berlanjut, langsung block saja. Tidak perlu menjelaskan satu-satu ke mereka bahwa kalian tidak suka ditanya dengan pertanyaan tersebut. Sungguh tidak perlu. Cukup lakukan kedua hal itu saja. Kalian sangat berhak melakukannya. Itu sosial media kalian.

Untuk yang ditanya secara langsung, ini membutuhkan sedikit keahlian dan keberanian. Yang perlu ditekankan adalah, ijinkan mereka yang terus bertanya pada kalian mengetahui bahwa kalian tidak suka ditanya hal tersebut terus-terusan. Mereka harus tahu akan hal tersebut. Kalau aku sendiri, aku tidak akan menjelaskan secara langsung dan mendalam, seperti teman perempuanku di kisah pertama. Duduk bersama sembari minum sesuatu, dan menjelaskan semuanya betapa bencinya aku jika ditanya perihal tersebut. Tidak tidak tidak. Aku tidak akan melakukan hal tersebut. Aku merupakan seseorang yang kesehariannya dalam “mode hemat” :mrgreen: . Aku tidak akan menyia-nyiakan energiku untuk menjelaskan panjang lebar.

Ketika kalian ditanya seseorang dengan pertanyaan tersebut dan kalian tidak menyukai akan hal tersebut, kalian sangat berhak untuk tidak menjawabnya. Diamkan saja. Acuhkan pertanyaannya. Tidak semua pertanyaan harus dijawab, apalagi jika kalian memang tidak ingin menjawabnya. Tentu saja dengan ekspresi yang tetap cool dan tenang. Jangan sekali-kali menunjukkan ekspresi yang menunjukkan bahwa kalian sedang terpojok! Jangan! Jika orang tersebut merupakan oknum yang berniat menjatuhkanmu, dia akan sangat senang dan puas sekali. Stay cool and calm! 😎  😎 

Kedua, kalian boleh saja langsung meninggalkan percakapan/orang ketika pertanyaan tersebut muncul. Sangat layak untuk dilakukan karena itu tadi, mereka harus tahu bahwa kalian tidak suka ditanya hal tersebut terus-terusan. Sekali lagi, poin pentingnya adalah ijinkan mereka tahu bahwa kalian tidak suka dan tidak nyaman. Terserah dengan cara seperti apa (entah cara 1 atau 2, atau yang lainnya), tergantung siapa yang kalian hadapi. Yang jelas caranya harus elegan menurut kalian. Itu tips dariku.

Tidak peduli betapa dekatnya kalian dengan seseorang, kalian tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadinya, kecuali jika kalian ingin membantunya dengan sungguh-sungguh atau dia memang mengijinkan kalian untuk mencampuri hidupnya. Apalagi dengan orang yang baru pertama kali bertemu atau hanya sesekali bertemu (tidak akrab sama sekali), kalian sangat tidak pantas untuk menanyakan 4 pertanyaan tersebut. Sangat tidak pantas.

Terakhir dariku, hidup ini terlalu singkat untuk merasakan sendiri semua pengalaman yang bisa dirasakan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk belajar dari pengalaman orang lain. Aku setuju sekali bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Tidak masalah dengan emak-emak yang belajar dari pengalaman seorang anak. Orang tua yang belajar dari pengalaman orang yang lebih muda, begitu sebaliknya. Ingat, hidup ini terlalu singkat untuk merasakan semua pengalaman seorang diri. Be wise!

Writer : Bayu Rakhmatullah

Instagram : @rakhmatullahbayu

 

 

0