PEJUANG FREELANCE

freelancer

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyak tempat yang kukunjungi, aku menemukan banyak orang sepertiku. Aku menyebutnya—mereka lebih tepatnya—dengan sebutan “Pejuang Freelancer”—kenapa gak langsung freelancer aja sie?

Bagiku, mereka adalah pejuang. Dari sekian banyaknya jenis pekerjaan, mereka lebih memilih menjadi freelancer. Alih-alih memilih pekerjaan dengan gaji stabil dan lebih terjamin, mereka memilih untuk bekerja lepas.

Ada berbagai alasan kenapa mereka lebih memilih menjadi freelancer dibandingkan bekerja di perusahaan swasta atau pemerintahan. Dari sekian banyaknya alasan, alasan utama yang sering aku jumpai adalah mengenai kebebasan. Mereka lebih memilih menjadi freelancer karena waktunya yang cenderung lebih bebas, tidak harus berangkat pagi dan pulang malam selama lima hari berturut-turut selama satu pekan.

Aku pun juga begitu. Aku sangat menyukai kebebasan. Aku tidak bisa membayangkan harus bekerja dari pagi sampai malam selama 5 hari dalam sepekan—bangun pagi aja susah. Aku masih belum mempunyai alasan kuat yang memaksaku untuk bekerja kantoran dll. Keluargaku merupakan golongan menengah ke atas, sehingga kedua orang tuaku tidak pernah menuntutku untuk bekerja di perusahaan tertentu layaknya teman-temanku lainnya. Mereka berdua memberikan kebebasan penuh padaku untuk melakukan apapun yang aku mau­, toh aku juga yang menjalani hidupku sendiri­—beruntung sekali aku memiliki kedua orang tua seperti mereka. Bahkan orang tuaku tidak akan melarangku jika aku memilih untuk pulang dan tidur-tiduran di rumah atau membantu kakakku merawat anaknya di Palangkaraya. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku memiliki mimpi yang harus kuwujudkan, dan menjadi freelancer merupakan upayaku untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan guna mewujudkan “mimpiku” tersebut.

Kembali ke Pejuang Freelancer. Bagiku, mereka adalah pejuang. Ada yang mengatakan bahwa  freelancer itu lebih banyak free-nya dibandingkan bekerjanya—hahaha. Waktu kerja yang bebas dan fleksibel memberikan kesan bahwa freelancer lebih banyak free-nya dibandingkan bekerja. Jika orang lain pada umumnya bekerja, freelancer malah asyik jalan-jalan. Begitu sebaliknya, ketika orang lain pada umumnya istirahat, freelancer malah bekerja. Jika pun mereka memiliki waktu yang benar-benar bebas, tidak jarang seorang freelancer mengikuti suatu pelatihan yang bisa meningkatkan skill-nya dalam bekerja.

Bagiku, mereka adalah pejuang. Tak jarang memang gaji per bulan freelancer lebih besar dibandingkan pegawai kantoran, namun tak jarang juga lebih sedikit. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen keuangan yang sangat baik, apalagi ketika banyak free-nya dibandingkan kerjanya, bukannya langsung menghabiskan gaji dalam semalam—aku seperti itu jika khilaf.

freelancer

Aku sendiri mulai mencoba menjadi freelancer ketika tingkat 3 akhir (semester 6) kuliah. Aku memulainya dengan menjadi fotografer lepas. Aku menjadi juru foto suatu kegiatan ketika ada seseorang yang meminta jasaku. Beberapa kali aku diminta untuk menjadi fotografer pernikahan, tapi aku selalu menolak—curhat. Saat ini, selain menjadi fotografer lepas, aku juga menjadi penulis lepas. Aku juga menjadi editor di suatu penerbit.

Ketika aku menjadi freelancer, aku cenderung memiliki waktu yang fleksibel untuk travelling. Bahkan tak jarang aku melakukan keduanya—bekerja sambil travelling—seperti yang telah aku lakukan sekarang, menjadi tutor di suatu biro perjalanan.

Sampai saat ini, aku tidak memiliki keinginan untuk menjadi pegawai tetap suatu perusahaan swasta ataupun instansi pemerintah. Aku tahu betul dengan diriku, bahwa karakterku tidak cocok akan hal tersebut. Selain itu, pengalaman-pengalaman orang lain semakin meyakinkanku bahwa keputusanku ini tepat bagiku. Aku tidak harus mencoba/mengalaminya sendiri untuk mengetahuinya, dan kemudian akan menyesal pada akhirnya. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya percaya pada pengalamannya sendiri, seperti aku yang dulu. Aku tidak ingin seperti itu lagi. Pengalaman adalah guru terbaik, entah itu pengalaman pribadi atau pun pengalaman orang lain.

Entah sampai kapan aku memegang teguh keyakinanku ini? Entah sampai kapan aku bersikeras untuk tidak menjadi pegawai? Aku tak tahu. Jika memang keadaan benar-benar memaksa, aku tidak akan menolak untuk berubah. Namun, sebelum itu terjadi, aku ingin melakukan apapun yang kuinginkan, termasuk menjadi freelancer.

freelancer

Aku paham betul bahwa menjadi freelancer bukanlah karir yang ingin kuwujudkan, melainkan hanya suatu pekerjaan/cara yang membantuku untuk mewujudkan impianku. Impianku adalah menjadi penulis sekaligus fotografer yang mengenalkan keindahan Indonesia kepada dunia, khususnya masyarakat Indonesia sendiri. Aku ingin memberitahukan pada dunia—terlebih Indonesia—betapa indahnya negaraku ini, sehingga sudah sepatutnya karunia ini dijaga dan dipelihara dengan baik. Aku juga ingin menuliskan kisah tentang perjalananku mengelilingi Indonesia dan dunia.

Sangat mungkin bahwa impianku tidak menjadi nyata. Sangat mungkin cita-citaku ini menjadi khayalan belaka. Banyak sekali tantangan yang harus kulalui untuk mewujudkan impianku tersebut. Aku paham sekali akan hal tersebut. Sulit? Iya, bukan cita-cita/impian kalo mudah untuk meraihnya. Mumpung aku masih muda, aku akan mewujudkannya dengan sekuat tenaga. Jangan lupa untuk bahagia juga!

 

Writer : Bayu Rakhmatullah

Instagram : https://www.instagram.com/rakhmatullahbayu/

0