YOUTH RESEARCH CAMP 2018 : 1 VS 8

Youth Research Camp 2018 adalah kegiatan penelitiaan yang diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA YPHB Bogor—tepatnya kelas XI. Kegiatan ini berlangsung di Dieng, Jawa Tengah selama satu minggu. Aku sendiri bekerja sebagai tutor mereka. Oh iya, aku menjadi tutor kelompok IPS-1.

10 April 2018

“Kalian mau diberitahu kelompok kalian sekarang atau nanti saja, biar kejutan?” kata salah satu head tutor.

“Kejutan saja kak,” jawab salah satu tutor.

“Kok jadi deg-deg an ya kak?” tutor yang lain menimpali.

Aku pribadi tidak merasakan ketegangan sama sekali. Aku siap dengan siapapun yang nantinya akan kuhadapi. Tidak ada ekspektasi maupun harapan khusus mengenai siswa-siswi yang akan kutangani nanti, hanya saja aku memohon kepada Tuhan agar senantiasa dilindungi—apa maksudnya ini? Aku tahu banyak sekali opini di luar sana—khususnya yang ditayangkan di meme—yang menyatakan bahwa anak IPS jauh lebih “nakal” dibandingkan anak IPA. Namun, aku tidak ingin terpengaruh oleh opini-opini tersebut. Seperti yang telah dikatakan oleh Pramoedya, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Biarkan aku sendiri yang menilai mereka—yang akan kuhadapi nanti.

Aku mengenalkan diri di depan mereka. Tepat setelah itu, dibagilah kelompok. Satu per satu teman-temanku—sesama tutor—dipanggil namanya, hingga menyisahkan aku sendiri di depan Aula. Namaku menjadi yang terakhir disebut, menandakan bahwa aku menjadi tutor IPS-1.

Aku tersenyum pada mereka, pun begitu sebaliknya. Tidak banyak yang kubicarakan pada mereka, aku tidak ingin memaksa hubungan ini cepat akrab. Sesi pertama berlalu begitu saja, tanpa adanya “kejutan”. Masa-masa tenang itu berlalu begitu singkat. Tepat setelah ISHOMA, ada kejutan kecil yang dipersembahkan oleh salah satu adikku—aku menyebut mereka dengan sebutan tersebut.

Youth Research Camp 2018

Namanya Audy. Seorang remaja perempuan yang suka mencuri-curi pandang dan senyuman. Dia tidak banyak bicara, namun langsung beraksi, salah satunya dengan memberikan “kejutan” kecil pada pertemuan pertama. Jadi, begini ceritanya. Sesi kedua dimulai, namun Audy tak kunjung tampak batang hidungnya.

“Dek, kamu dimana?” tulisku melalui pesan via Line.

“Aduh, aku pulang duluan kak. Ada acara keluarga. Aku kira hari ini pulang jam setengah sebelas lagi, ternyata sore. Jadinya pulang duluan.”

Awalnya aku percaya, namun keisenganku muncul. Aku menunjukkan pesan tersebut kepada adik-adikku yang lain. Setelah dikonfirmasi oleh mereka, ternyata Audy sengaja kabur.

“Hmmm, satu orang kabur di pertemuan pertama. Satu lagi asyik liburan—acara keluarga lebih tepatnya—di Jogja. Masih bisa lebih buruk dari inikah esok hari?” pikirku.

Sontak saja ada kemajuan sedikit akan keakrabanku dengan adik-adikku yang lain, dengan cara membahas Audy dan Putri—hahaha.

11 April 2018

“Masih bisa lebih buruk dari inikah esok hari?” Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepalaku dan membangunkanku yang masih mengantuk.

“Bagaimana jika mereka semua terlambat, meskipun sudah adanya perjanjian bahwa yang telat akan mentraktir yang lain? Bagaimana jika meraka malah lebih berani untuk tidak datang semua ke Kebun Raya Bogor dan menyisahkan aku sendirian?”

Tidak tidak tidak. Aku harus tetap tenang. Aku percaya pada mereka. Sekali lagi, aku percaya pada mereka.

Kepercayaanku tak dikhianati. Mereka bertujuh datang semua ke Kebun Raya Bogor, meskipun ada satu orang yang datang terlambat. Bukan Audy. Sekali lagi, bukan Audy—aku terkejut karena dialah yang paling kukhawatirkan terlambat, bahkan bisa jadi tidak datang.

Youth Research Camp 2018

Namanya Fadil. Seorang remaja laki-laki yang tidak lebih banyak bicara dibandingkan dengan kedua adik laki-lakiku yang lain. Dia memiliki badan yang kurus dan rambut yang agak keriting. Wajahnya cenderung tanpa ekspresi, seakan-akan dia tak memiliki semangat dan gairah hidup. Sifatnya yang paling mudah kutebak adalah santai—selow. Sifatnya tersebut mengingatkanku pada diriku yang sekarang, meskipun tingkat keeleganannya jauh berbeda—akan diceritakan alasannya di part selanjutnya.

Dia datang terlambat, lebih dari jam 07.30 sesuai yang telah disepakati bersama. Dia terlambat karena mengantarkan ibunya ke pasar—anak yang baik.


Youth Research Camp 2018

Ada 8 siswa-siswi yang tergabung dalam kelompok IPS-1. Mereka adalah Rafif, Gibran, Audy, Putri, Hani, Mayra, Tasya, dan Fadil. Masing-masing dari mereka memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada juga yang cerewet. Ada yang penurut, pun ada yang keras kepala. Ada yang ambisius, ada juga yang lempeng-lempeng aja. Begitulah manusia, berbeda-beda, tak sama satu dengan yang lain, unik.

Youth Research Camp 2018

Rafif, menjadi pertama dari sekian banyak hal. Dia menjadi yang pertama untuk yang paling akrab denganku. Dia juga menjadi yang pertama dalam menanggapi pesan di grup line. Bahkan dia juga menjadi yang pertama dalam menceritakan tentang kehidupan pribadinya, padahal aku selalu menghindari untuk mengurusi kehidupan pribadi mereka semua.

1 vs 8. Mereka berdelapan menjadi “lawan” yang terus aku hadapi dan harus kutaklukan—entah sampai kapan—baik itu di Bogor ataupun di Dieng. Aku pribadi tidak akan menyalahkan mereka jika mereka tidak menyukaiku, atau bahkan membenciku. Kebanyakan orang yang kukenal cenderung membenciku—aku sangat menyebalkan—daripada menyukaiku, maka tidak pantas jika nantinya aku menyalahkan mereka.

Bersambung …

Note : Tunggu part selanjutnya! 😉 

Writer : Bayu Rakhmatullah
Instagram : https://www.instagram.com/rakhmatullahbayu/

1