YOUTH ADVENTURE – ZIARAH DIRI TANGAN DI BAWAH (EPISODE 1)

Perjalanan ini sungguh menguras egoku. Setiap hari aku harus minum Yakult. Setiap pagi dan malam aku selalu ditemani oleh Pocari Sweat. Aku, aku, dan aku. Selalu aku. Sejak tanggal 28 Agustus 2016, semua itu tidak berlaku lagi. Yakult? Pocari Sweat? Ah, semua itu harus kusampingkan saat ini. Aku mendapatkan misi dari Gerakan Mari Berbagi untuk sampai ke Jakarta dari Yogyakarta dengan melewati dua kota, yaitu Semarang dan Pekalongan.

Gerakan Mari Berbagi

Aku sekelompok dengan Kak Ais dari Palu dan Kak Anita (Anita Nathania) dari Pontianak. Kami bertiga menerima uang 300 ribu dari panitia untuk perjalanan kami 4 hari 3 malam. 300 ribu! Ya, 300 ribu, dari Yogyakarta ke Jakarta dan harus melewati Semarang dan Pekalongan. Semarang adalah kota pertama tujuan kami. Kami di Semarang harus melakukan ziarah diri tangan di bawah, merasakan keadaan sulit sehingga harus meminta tolong pada orang lain. Sedangkan di Pekalongan kita harus melakukan ziarah diri tangan di atas.

Gerakan Mari Berbagi

Bagaimana kita menuju ke Semarang tanpa menggunakan uang sepeserpun? Ya, kita nebeng. Aku sudah sering melakukan hal tebeng-tebengan, tapi bukan dengan jarak yang sejauh ini juga, ±100 km. Sekali lagi aku harus mengesampingkan egoku. Aku yang biasanya lebih memilih jalan yang mudah, tidak berlaku dalam perjalanan ini. Melambaikan tangan di pinggir jalan, bermandikan terik matahati berjam-jam, berlari sambil menenteng tas berat. Semuanya itu kulakukan agar sampai di Semarang. Bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk kita semua. Perjalanan ini bukan lagi tentang diriku seorang. Perjalanan ini tentang kita semua. Ya, ini tentang kita bertiga.

Gerakan Mari Berbagi

Terima kasih Gerakan Mari Berbagi, yang telah menerimaku menjadi peserta YA & YLF 2016. Perjalanan kami masih terus berlanjut. Perjalanan untuk menemukan diriku yang baru. Mau tau kisah perjalanan kita selanjutnya? Penasaran dengan manusia-manusia yang dikirimkan Allah untuk membantu kita bertiga? Pantau terus ceritaku.

Writer : Bayu Rakhmatullah

0