When I Was Young

By | April 18, 2022

Belakangan ini, aku membuat tulisan yang mengharuskanku untuk membuka galeri (foto) lama. Satu per satu folder yang menampilkan fotoku ketika masih muda kubuka. Foto-foto itu membawaku pada kenangan masa muda dulu.

Wajahku ketika muda dulu tampak begitu cerah. Tanpa harus melakukan perawatan ini-itu. Pun tak harus menggunakan kamera bagus. Kamera seadanya saja sudah cukup. Bagaimana pun masa muda menampilkan wajah yang berseri, masih kencang dan tirus. Tubuh dan tenaga masih fit. Usia memang tidak membohongi. Aku jadi rindu masa mudaku dulu …

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did.”

Penyesalan

Sumber : Unsplash

Tidak hanya membuatku rindu, foto-foto itu membuatku berefleksi. Benar kata orang, ketika menua nanti, kita cenderung menyesal pada hal yang tidak dilakukan dibandingkan yang telah dilakukan. Walaupun aku melakukan banyak hal bodoh ketika muda dulu, aku tidak lebih menyesal dibandingkan dengan hal yang tidak kulakukan. Seharusnya ketika muda dulu aku melakukan apapun yang kuinginkan. Toh itu akan memberikan pengalaman.

Harus kuakui bahwa ketika muda dulu aku begitu memperhatikan yang dipikirkan orang lain tentangku. Aku ingin dipuji dan disukai banyak orang. Aku takut akan komentar buruk orang lain. Dan itu terkadang menghalangiku untuk melakukan hal-hal yang kuinginkan/sukai.

“Tulisan ini belum matang. Apa jadinya nanti kalo dikomentari oleh orang lain?”

“Gak jadi di-publish deh. Ini bakal menyinggung banyak orang.”

“Aku ingin mengubah penampilan, tapi nanti malah dihujat oleh teman-teman?”

Salah satu yang paling kusesali adalah aku tidak menulis blog dari dulu. Aku takut akan komentar buruk dari orang lain, entah karena tulisan yang buruk atau lebay (berlebihan dalam bercerita). Seharusnya aku tidak perlu memedulikan hal yang tidak penting seperti itu. Seharusnya aku menulis blog sedari dulu.

Sumber : Unsplash

Memang ketika masih muda (terutama remaja), kita cenderung polos dan naif. Kita begitu memperhatikan komentar orang lain. Pendapat orang lain menjadi prioritas dalam memutuskan suatu pilihan. Seringkali harus mengorbankan yang benar-benar disukai hanya karena takut komentar buruk atau dijauhi teman. Ketika masih muda, kita cenderung membutuhkan validasi dari orang lain. Hingga ketika menua nanti, kita menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar peduli selain kita sendiri.

“When you’re 20 you care what everyone thinks, when you’re 40 you stop caring what everyone thinks, and when you’re 60 you realize no one ever thinking about you in the first place.”

Oleh karena itu, sebelum terlambat dan penyesalan itu datang di kemudian hari, lakukan apapun yang kalian inginkan. Jangan biarkan pendapat orang lain menghalangi kalian melakukan yang benar-benar kalian sukai. Jangan!!!

Baca juga :   Renungan Menjelang 27 Tahun

Sekarang usiaku 27 tahun, masih tergolong muda sebenarnya. Belajar dari pengalaman masa remaja, kali ini aku membebaskan diriku untuk melakukan apapun yang kusukai. Aku menulis apapun yang kuinginkan. Peduli setan dengan komentar atau yang dipikirkan orang lain tentangku. Aku tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi standar orang lain.

Sumber : Unsplash

Ingat, tidak ada yang benar-benar peduli! Setiap orang sibuk dengan hidup masing-masing. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika kalian tidak melakukan yang kalian sukai, mewujukan impian, hanya karena komentar orang lain.

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi