Sumber Kebahagiaan, Sekaligus Penderitaan

By | September 30, 2022

Aku tidak ingat drama Korea pertama yang aku tonton, tapi aku ingat sekali dengan orang pertama yang membuatku suka pada drama Korea. Yaitu Mom Yeni, guru Bahasa Inggrisku ketika SMA dulu. Kemudian ada satu sosok lagi, yang membuat wawasanku tentang drama Korea semakin luas, yaitu sahabatku. Congi.

Mom Yeni merupakan guru Bahasa Inggrisku ketika kelas 11 SMA. Dia orang yang cukup berpikiran terbuka. Dan guru yang unik, seringkali mengajak siswa-siswanya menonton film bersama di kelas. Dulu kita seringkali berdiskusi, bukan tentang pelajaran, melainkan drama Korea. Dia adalah orang pertama yang “meracuniku” untuk menyukai drama Korea. Dia merekomendasikan banyak drama Korea yang patut untuk kutonton, sekaligus membagikan file-nya kepadaku.

Dia seringkali berpesan kepadaku bahwa menonton drama Korea atau film secara umumnya dapat menambah sudut pandang baru tentang kehidupan. Selain itu, drama Korea juga seringkali menawarkan wawasan baru yang selama ini tidak kita ketahui, misalnya tentang profesi yang belum jamak diketahui banyak orang. Dan aku setuju dengan pendapatnya. Andai saja aku bertemu lebih awal dengan Mom Yeni …

Ketika kuliah, tepatnya ketika penjurusan (tahun ke-2), aku bertemu dengan sahabatku, Congi. Kala itu, aku yang masih newbie tentang perdrakoran, dikenalkan jauh lebih mendalam oleh Suhu ini. Drama Korealah yang menyatukan kita berdua. Aku harus berterima kasih pada drama Korea karena telah menjadikan kita sahabat, hingga kini.

drama korea

My Mister

Kini, sudah 10 tahun lebih aku menjadi penggemar drama Korea. Sudah 100 lebih judul drama Korea yang telah kutonton. Pengetahuanku tentang drama Korea cukup luas dan mendalam, bahkan seringkali aku dimintai rekomendasi oleh teman-temanku. Kini, aku bisa mengatakan dengan percaya diri bahwa aku telah melampaui pendahuluku, Mom Yeni dan Congi.

Ada banyak perubahan dari awal (newbie) menjadi penggemar drama Korea hingga kini yang sudah expert. Dulu genre favorit adalah romance comedy, kini aku lebih tertarik dengan genre slice of life. Jika dulu pertimbangan utama untuk menonton suatu drama adalah idola, kini tidak lagi. Dulu, jika ada aktor/aktris favoritku di dalam drama tersebut, maka akan kutonton drama tsb. Kini tidak lagi, yang menjadi pertimbangan utamaku untuk menonton suatu drama adalah jalan ceritanya. Jalan cerita menjadi yang paling utama, kemudian sinematografi dan teknis yang lain, kualitas akting, baru kemudian aktor/aktris favorit.

Baca juga :   Depresi Pertama

Seiring dengan banyaknya drama Korea yang telah kutonton, aku menjadi makin selektif. Aku hanya menonton drama yang kuanggap bagus, memiliki jalan cerita yang menarik. Semakin ke sini, standarku semakin tinggi, hingga membuat drama yang kutonton per tahunnya jumlahnya semakin sedikit.   

Sumber kebahagiaan

10 tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan aku masih setia menjadi penggemar drama Korea. Tidak lain karena drama Korea telah membuatku bahagia.

Aku memiliki daftar “My Comfort Drama”. Drama-drama tersebut membuatku merasa nyaman ketika menontonnya. Ada banyak alasan yang membuatku merasa nyaman, salah satunya karena relate dengan kehidupanku sendiri. Aku tahu dengan betul bahwa itu hanyalah karangan fiktif belaka. Mengetahui bahwa di luar sana ada juga yang merasakan/mengalami hal yang sama sepertiku membuatku merasa lega. Sekalipun itu hanya karakter fiktif tidak jadi masalah bagiku. Terkadang drama Korea begitu mewakili perasaanku, memahamiku.  Aku tidak sendirian.

drama korea

Our Blues

Ada suatu ungkapan bahwa orang yang menonton film (termasuk drama) memiliki kehidupan lebih dari satu. Maksudnya adalah dia bisa menjadikan kehidupan yang lain (dari suatu film/drama) sebagai sebuah pelajaran untuk diterapkan di kehidupan yang nyata. Bagiku, drama Korea bukan hanya hiburan semata, melainkan juga sumber inspirasi. Tidak melulu memberikan ide pada tulisanku atau pekerjaanku yang lain, namun juga memberikan inspirasi pada kehidupan pribadiku sendiri. Aku tahu bahwa hidupku amat singkat jika hanya belajar dari pengalaman pribadi saja. Aku juga harus belajar dari pengalaman orang lain, termasuk dari karakter fiktif sekalipun.

Sumber penderitaan

Tidak melulu membuatku bahagia, terkadang drama Korea juga membuatku menderita. Setelah aku menamatkan drama Korea yang amat berkesan bagiku, aku merasakan kehilangan. Aku bingung, linglung hendak melakukan apa setelahnya, seperti ada yang hilang. Bahkan perasaan kehilangan itu bisa berlangsung sampai beberapa hari setelah tamat. Terlepas dari sudah banyak drama Korea yang telah kutonton, perasaan kehilangan setelah menamatkan suatu drama tetap ada. Sekalipun sudah terbiasa, perpisahan tetap menyakitkan. Sakit, tapi tidak berdarah …

Baca juga :   BAHAGIA DENGAN CARA MASING-MASING

Masalah akan semakin pelik jika kamu termasuk orang yang ketagihan drama Korea. 1 episode lagi, 1 episode lagi, 1 episode lagi. Hingga kamu tersadar bahwa kamu telah menyelesaikan 16 episode suatu drama hanya dalam waktu 2 hari. Kantong matamu menghitam, tubuhmu lunglai, pekerjaan/tugasmu terbengkalai, dan hidupmu berantakan. Kuncinya adalah pengendalian diri. Selama kamu tidak kalap, maka tidak jadi masalah.

Belum selesai di situ, drama Korea seringkali membuat penontonnya halu. Karakter-karakter fiktif yang diciptakan oleh penulis membuat penontonnya berekspketasi terlalu tinggi pada calon/pasangannya. Bagi mereka yang sudah memiliki hubungan, akan memberatkan pasangannya. Bagi mereka yang jomblo, mereka akan terus jomblo karena standar yang terlalu tinggi (tidak realistis). Sedih.

drama korea

On The Way to The Airport

Kadang drama Korea membuatku tidak habis pikir, bisa-bisanya dia membuatku mood swing. Perkara di dunia nyata saja sudah cukup membuatku pusing, ditambah dengan drama Korea. Namun, dari sekian banyak dampak buruk dari drama Korea, aku menyadari bahwa manfaatnya tetap jauh lebih banyak. Drama Korea telah menambah berbagai sudut pandang baru dalam hidupku, bahkan tak jarang membantuku untuk bangkit dari kondisi terpuruk. Drama Korea telah berperan besar dalam hidupku. Aku bersyukur memiliki hobi nonton film/drama. Dan aku tidak berencana untuk mengubah hobi tersebut dalam waktu dekat ini …

NB : hanya penggemar drama Korea yang paham cerita ini.

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi