Solo Traveling? Kenapa Tidak?!

By | November 26, 2022

Empat tahun yang lalu, aku melakukan perjalanan panjang mengelilingi pulau Sumatera, dari Aceh sampai Bangka Belitung selama tiga bulan. Sendiri, solo traveling. Aku melakukannya secara backpacker, naik kendaraan umum. Aku tidur di berbagai tempat : rumahnya teman, rumahnya temannya temanku, panti asuhan, rumah kosong, stasiun radio, kantor KPU, musala, tenda, hotel dkk.

Perjalanan itu dalam rangka mewujudkan salah satu impianku, yaitu keliling Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Perjalanan keliling pulau Sumatera selama tiga bulan itu telah mengubah hidupku. Perjalanan itu sangat berkesan dan membekas di hatiku. Hingga kini …

solo traveling

Sumber : Unsplash

Traveling sebagai cara untuk mengenal diri sendiri

Banyak tokoh-tokoh besar mengatakan bahwa traveling merupakan cara terbaik untuk mengenal diri sendiri. Dan aku setuju dengan pendapat mereka. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak orang menyarankan untuk melakukan perjalanan selagi masih muda. Orang-orang Barat menghadiahi anak-anak mereka ketika lulus SMA/kuliah dengan tiket perjalanan ke luar negeri.

Apakah memang semanjur itu?

Yes! Apalagi jika dilakukan dengan solo traveling. Selama perjalanan, kamu akan mengalami banyak hal, menemui banyak orang, dan semua itu membantumu untuk mengenal dirimu sendiri.

Keutungan solo traveling

Selama ini aku lebih banyak melakukan solo traveling dibandingkan dengan bersama orang orang lain atau berkelompok karena solo traveling menawarkan lebih banyak kebebasan. Aku bebas menentukan destinasi yang ingin dijelajahi. Aku bisa menghabiskan waktu selama mungkin di suatu destinasi. Aku tidak perlu repot-repot menunggu dan ditunggu. Intinya adalah ketika solo traveling aku tidak perlu berkompromi dengan orang lain.

Sumber : Unsplash

Solo traveling juga menghadirkan lebih banyak unsur kejutan dibandingkan perjalanan secara kelompok atau tour trip yang cenderung terjadwal. Aku juga dilatih untuk menjadi petualang, alih-alih sekadar menjadi turis.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, selama ini kita lebih sering melihat “ke luar” daripada ke dalam diri sendiri. Kita lebih sering mengamati, mencoba memahami orang lain atau segala sesuatu yang ada di luar diri sendiri, dibandingkan memahami/mengenal diri sendiri. Solo traveling seperti menjadi katalis untuk mengenal diri sendiri lebih baik lagi. Tidak adanya teman perjalanan, tidak adanya distraksi dari media sosial—oleh karena itu alangkah baiknya jangan terlalu sering menggunakan media sosial ketika traveling—membuat kita mau tidak mau mengobrol dengan diri sendiri. Berkontemplasi. Solo traveling memberikanku lebih banyak waktu untuk berkontemplasi.

Baca juga :   Penyendiri yang Merasa Kesepian

Tantangan/kesulitan solo traveling

Meskipun menawarkan lebih banyak kebebasan, tidak banyak orang yang melakukan solo traveling. Solo traveler merupakan minoritas jika dibandingkan dengan kelompok wisata yang lain. Hal tersebut dapat dipahami karena solo traveling memiliki tantangan dan kesulitan tersendiri.

Selama perjalanan, yang bisa kuandalkan adalah diri sendiri. Basic survival merupakan skill wajib yang harus dikuasai.

Kesepian merupakan musuh utama dalam solo traveling, sekaligus teman terdekatku. Perasaan itu menyelinap begitu saja, tanpa diundang, entah ketika berada di tenda sendirian atau duduk di kendaraan umum pada malam hari. Terkadang di saat seperti itu aku berandai-andai, “andai ada teman perjalanan di sampingku.”

Sumber : Unsplash

Tidak benar-benar sendiri

Solo traveling itu tidak melulu sendiri. Terkadang di tengah perjalanan aku bertemu dengan teman, entah nantinya menjadi teman perjalanan atau sekadar teman mengobrol.

“One of the things I love most about this life is that there’s no final goodbye. You know, I’ve met hundreds of people out here and I don’t ever say a final goodbye. I always just say, “I’ll see you down the road.” And I do. And whether it’s a month, or a year, or sometimes years, I see them again.” – Nomadland

Perpisahan merupakan hal yang biasa di dalam perjalanan, walakin terkadang aku tetap meneteskan air mata ketika mengalaminya. Ketika aku mengucapkan “sampai jumpa lagi”, aku benar-benar berharap bertemu kembali dengan mereka. Orang-orang yang kutemui di dalam perjalanan termasuk golongan orang-orang yang paling kurindukan dan ingin kujumpai lagi suatu saat nanti.

”I guess when you’re young, you just believe there’ll be many people with whom you’ll connect with. And later in life, you realize it only happens a few times.” – Before Sunset

Aku merasa paling terkoneksi dengan orang lain ketika dalam perjalanan. Mereka yang kutemui dalam perjalanan cenderung berpikiran terbuka. Terkadang aku bisa langsung akrab meskipun baru bertemu, seperti aku telah mengenal dia/mereka sejak lama. Kebanyakan hubungan yang paling berkesan bagiku adalah ketika dalam perjalanan.

Baca juga :   Berkat Traveling

Sampai sekarang aku terus melakukan solo traveling. Bukan sama sekali tidak mau jalan-jalan dengan orang lain, hanya saja menemukan teman perjalanan yang cocok denganku bukan perkara yang mudah. Seringkali ketika aku memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan orang lain dari awal, hasilnya malah zonk. Dan aku menyesal kemudian. Aku lebih banyak cocoknya ketika berjumpa di tengah perjalanan secara tidak sengaja.

Sumber : Unsplash

Adalah solo traveling yang berperan besar dalam hidupku. Ia telah menjadikanku pribadi yang tangguh, berani, mandiri, berpikiran terbuka, unik, otentik, dan berjiwa bebas.

Bagi kalian yang ingin mengenal diri sendiri lebih baik lagi, maka lakukan solo traveling. Solo traveling adalah cara paling efektif untuk mengenal diri sendiri. Jika memang terlalu berat, setidaknya lakukan minimal sekali seumur hidup. Selamat melakukan perjalanan …

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi