Seorang Introvert

By | July 18, 2022

Kepribadian seseorang dibagi menjadi menjadi 3 tipe, yaitu introvert, ekstrovert, dan ambivert. Secara gamblangnya introvert didefinisikan sebagai yang suka menyendiri, estrovert yang menikmati keramaian, sedangkan ambivert yang bisa menikmati kedua situasi tersebut.

Introvert menjadi yang paling sedikit dibandingkan dua tipe kepribadian lainnya. Maka tidak heran jika orang yang introvert seringkali disalahpahami. Berbagai prasangka ditujukan pada orang introvert, seperti anti sosial, angkuh, membosankan dkk.

Aku sendiri merupakan orang introvert, meskipun dulu pernah ambivert. Awal 20an aku masih ambivert. Aku bisa menikmati me time sekaligus keramaian. Aku seperti bunglon yang bisa menyesuaikan keadaan. Aku biasa melakukan solo traveling, pun menikmati liburan bersama banyak orang. Aku biasa makan, nonton di bioskop atau nge-mall sendirian, pun menyukai party hingga tengah malam.

Namun, kini tidak lagi. Ambivert berubah menjadi introvert. Sisi ektrovertku hilang. Aku sudah tidak bisa menikmati keramaian. Aku menyadari hal tersebut ketika menginjak usia 24 tahun.

Perjalanan yang menyadarkanku bahwa aku bukan ambivert lagi. Suatu ketika ada pertemuan orang-orang yang hobi traveling. Aku yang biasanya bisa menikmati keramaian, saat itu aku merasa tidak nyaman. Aku yang biasanya tidak masalah menjadi pusat perhatian, saat itu aku berusaha untuk menghilangkan hawa kehadiranku. Aku yang bahkan biasa menginap di rumahnya temannya temanku, dalam perjalanan itu aku lebih memilih menginap di hotel. Aneh!

Kini, kepribadianku adalah (dominan) introvert. Aku begitu menyukai kesendirianku, hingga aku menyebut diriku sendiri sebagai autophile.

Disalahpahami

Seperti yang kusebut di atas, bahwa orang introvert seringkali disalahpahami oleh orang lain. Keluargaku (ayahku) pun salah paham terhadapku. Dia berprasangka bahwa aku terlalu angkuh karena jarang bersosialisasi dengan orang lain (aka keluarga saudara-saudaranya). Padahal alasanku jarang bersosialisasi dengan orang lain bukan karena angkuh, melainkan aku lebih nyaman sendiri.

Baca juga :   Biarkan Waktu yang Bekerja

Seperti orang-orang introvert pada umumnya, berada di keramaian, berinteraksi dengan banyak orang membuat energiku terkuras dengan cepat. Lain halnya dengan ekstrovert yang mendapatkan energi jika berada di keramaian, tapi tidak bagi introvert. Untuk memulihkannya (recharge energi) setelah berada di keramaian/berinteraksi dengan banyak orang, aku membutuhkan waktu sendiri. Bagi orang introvert sepertiku, me time penting sekali. Aku lebih memilih menghabiskan waktu untuk nonton film atau sekadar membaca novel di rumah dibandingkan nongkrong (jika tidak penting-penting amat).

Sumber : Unsplash

Oleh karena itu, wajar jika orang-orang introvert memanfaatkan waktu luangnya untuk me time, alih-alih ikut party atau sekadar nongkrong dengan banyak orang. Bukan karena angkuh atau ansos, hanya saja mereka membutuhkan waktu untuk recharge setelah seharian berada di keramaian, kantor, sekolah dkk.

Introvert bukan kelemahan

Mungkin ada sebagian dari orang-orang introvert yang menganggap bahwa kepribadian mereka (introvert) merupakan kelemahan, sehingga harus diubah. Mereka berusaha menyesuaikan standar sosial, di mana ekstrovert yang menjadi acuannya. Ekstrovert menjadi batasan “normal” karena mereka lebih dominan jumlahnya.

Introvert merupakan bentuk kepribadian, sama sekali bukan kelemahan. Tak ada yang harus diubah hanya agar disebut “normal” seperti kebanyakan orang. Kamu hanya perlu menerimanya bahwa introvert merupakan kepribadianmu.

Ketika kamu sudah bisa menerima bahwasannya introvert merupakan sebuah kepribadian, bukan sebuah kekurangan, kamu akan mulai menikmatinya. Kamu akan menemukan bahwa menjadi introvert merupakan berkah tersendiri. Kamu juga akan menyadari bahwa kamu lebih peka karena sering berkontemplasi. Penerimaan menjadi langkah awal untuk mencintai diri sendiri, sekaligus menemukan kelebihan-kelebihan dari kepribadianmu tersebut.

introvert

Sumber : Unsplash

Orang-orang terdekatku paham betul bahwa aku merupakan seorang introvert, yang amat menghargai me time. Mereka tidak akan banyak protes jika aku menolak ajakan untuk nongkrong dkk. Tapi, tetap saja ada yang salah paham dan berprasangka buruk terhadapku. Ke depannya pun juga akan tetap ada. Tapi, peduli hantu dengan prasangka orang lain. Aku berhak memilih pilihan yang nyaman untukku, begitu juga dengan kalian.

Baca juga :   BAHAGIA DENGAN CARA MASING-MASING

Entah itu ektrovert, ambivert, atau introvert, mari kita saling menghargai preferensi hidup masing-masing dan menghormati batasan masing-masing. Setiap orang memiliki keunikan tersendiri, bukan?

 

Writer : Bayu Rakhmatullah

2 thoughts on “Seorang Introvert

  1. JIHYO

    Akhirnya gua paham bro sekarang, sempet pengen berubah jadi ekstrovert karena mengikuti mayoritas tapi emg susah mulut ini menanggapi/nimbrung ke yg lain. Tapi setiap lihat temen² yg ketawa² dan bahagia bareng sirkelnya, gua selalu ingin menjadi seperti mereka pengen ngobrol bebas dan ga diem aja tapi sulit nemu yg sefrekuensi
    Menurut lu apa gua harus cari temen baru atau stay aja?

    Reply

Mari Berdiskusi