Senin

By | April 25, 2022

Burung-burung berkicau, saling bersautan. Ada yang terbang ke sana-sini, ada juga yang bertengger di ranting pohon. Para lebah berterbangan di sekitar bunga, mengisap sarinya. Aku meneguk jus apel di balkon. Begitulah aku mengawali hariku di suatu pagi.

pagi hari

Sumber : Unsplash

Sudah lama sekali sejak aku takut terhadap hari Senin. Hari Senin tidak menakutkan lagi bagiku. Kini, hari Senin sama seperti hari lainnya. Bedanya, hari Senin merupakan awal dari suatu pekan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa antusias cenderung tinggi pada awalan. Pun pada hari Senin, aku semangat menjalani hari. Jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun yang lalu, setiap Minggu malam, aku cenderung khawatir menyambut Senin, berharap bahwa hari Minggu berlangsung lebih lama.

Perbedaan dulu dan sekarang adalah hari-hari cenderung sama. Minggu dan Senin tidak ada bedanya, pun dengan hari-hari yang lain. Karena bagiku setiap hari adalah liburan. Aku menikmati yang tengah kulakukan. Seperti moto hidupku, “I like what I do, I do what I like.”

Alih-alih takut, hari Senin merupakan awal bagiku. Seperti halnya pagi hari, aku menyambutnya dengan penuh rasa semangat. Menarik selimut dengan penuh antusias, tidur malam yang nyenyak dan berharap esok hari juga menyenangkan.

Apakah kamu (masih) takut pada hari Senin?

“Besok Senin!”

“Udah Minggu sore aja ya?”

“Aduh, besok udah kerja lagi?”

sunday blues

Sumber : Unsplash

Fenomena itu biasa disebut sebagai Sunday Blues, ketakutan menghadapi hari Senin, berharap bahwa akhir pekan berlangsung lebih lama. Sunday Blues biasa terjadi pada malam harinya. Perasaan cemas muncul, yang terkadang juga bisa membuat seseorang mengalami insomnia.

Selain kecemasan, Sunday Blues juga dapat menghancurkan akhir pekan itu sendiri. Kecemasan itu seperti mengambil kontrol, alih-alih menikmati seutuhnya akhir pekan. Bayangan beban pekerjaan selama 5 hari ke depan terus menghantui.

Baca juga :   3+1 TIPS MEMILIH FILM AGAR TIDAK ZONK

Pertanda ada yang tidak beres

Kecemasan itu merupakan perasaan yang valid, jangan disangkal. Penting sekali untuk memahami alasan di balik fenomena terjadinya Sunday Blues. Apa yang membuatmu takut dan cemas menghadapi hari Senin? Apakah kamu takut pada atasanmu? Atau bahkan karena kamu tidak menyukai pekerjaanmu sendiri? Setelah kamu mengetahui penyebabnya, kamu bisa menerapkan solusinya agar kecemasan itu tidak berlarut-larut.

Tapi, bukannya orang-orang juga mengalami hal yang sama? Kenapa harus ribet dan dibesar-besarkan segala? Bukankah bekerja (Senin-Jum’at) memang tidak menyenangkan? Oleh karena itu ada akhir pekan.

Kita memang cenderung diajarkan untuk menekan perasaan itu sendiri. Bertahan dengan pekerjaan yang dibenci merupakan hal lumrah, dilakukan banyak orang. Begitulah dunia orang dewasa, tentang bertahan.

Tapi perlu diketahui bahwa jika fenomena Sunday Blues dibiarkan begitu saja (dalam waktu yang lama), kecemasan tersebut akan berubah menjadi depresi. Kamu yang menentukan, menghadapi dengan gagah berani, menyelesaikan hingga tidak cemas kembali atau bertahan dengan kecemasan itu sendiri.

Aku memilih menghadapinya dengan gagah berani. Beberapa tahun silam aku juga pernah mengalami Sunday Blues. Senin merupakan hari yang menyeramkan. Weekdays adalah hari-hari yang menyiksa. Berangkat bekerja seperti hendak disembelih (tentu saja ini hanyalah metafora). Hingga pada suatu momen aku bertanya pada diri sendiri, “haruskah aku mengalami kecemasan ini berulang-ulang? Bahagia hanya saat akhir pekan, sisanya menderita. Sampai kapan?”

Hingga kemudian aku memutuskan untuk resign, keluar dari lingkaran penderitaan. Aku mengambil jalan yang sunyi, yang bagi sebagian besar orang merupakan keputusan yang aneh. Aku memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang sendiri (backpacker) selama berbulan-bulan. Perjalanan itu benar-benar menyadarkanku bahwa aku begitu mencintai traveling (liburan) di atas segalanya.

digital nomad

Sumber : Unsplash

Kini, aku melalukan pekerjaan yang diidam-idamkan banyak orang. Seorang digital nomad, yang pekerjaan penuh waktunya adalah jalan-jalan (traveling). Aku tidak takut lagi pada hari Senin. Sebaliknya, aku semangat menanti hari Senin. Setiap harinya merupakan liburan bagiku.  

Menjadi dewasa memang tidak melulu (hanya) melakukan hal-hal yang disukai, terkadang kita harus (rela/sabar) melakukan hal-hal yang dibenci. Namun, rasanya sayang sekali jika hidup ini dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai.

Baca juga :   Perlukah Aku Menikah?

Selamat hari Senin!!!

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi