Seni Tidak Melakukan Apa-Apa

By | July 30, 2023

Matahari sudah condong ke barat. Warna langit seorange buat jeruk. Kawanan burung terbang ke arah timur, seperti hendak pulang ke rumahnya masing-masing. Para ibu berteriak, menyuruh anak-anaknya segera pulang. Aku duduk berpangku tangan, melamun di balkon rumahku. Tidak melakukan apa-apa.

tidak melakukan apa-apa

Sumber : Unsplash

Beberapa hari yang lalu aku berdiskusi dengan kakak pertamaku tentang hal ini, doing nothing. Kita berdua menyadari bahwa semakin bertambahnya usia, kita semakin membutuhkan momen tidak melakukan apa-apa. Me time, tapi yang tidak produktif. Melamun, membiarkan pikiran berkelana. Tidak harus merenung, refleksi atau kontemplasi. Itu ada waktunya sendiri. Membiarkan saja pikiran melompat ke sana ke mari, sambil mengamati lingkungan di sekitar kita.

Singkat, tapi menenangkan. Bisa dibilang bahwa doing nothing merupakan salah satu bentuk manajemen stres. Tidak melakukan apa-apa menjadi penyelamat di zaman yang serba cepat ini. Momen itu membantuku untuk bangkit dari hari-hari yang melelahkan, agar tetap waras. Jeda. Sejenak tidak memikirkan pekerjaan, deadline, dan tagihan yang menumpuk bagaikan dosa.

Aku menjadikan momen “tidak melakukan apa-apa” sebagai rutinitas. Setidaknya sekali dalam sehari. Jika pun benar-benar tidak sempat, setidaknya beberapa kali dalam seminggu. Aku biasa melakukannya di sore hari, bengong, memandangi langit atau sunset. Jika bangun pagi—ini jarang sekali terjadi—aku akan membuka jendela kamarku, melihat matahari terbit. Kamarku berada di lantai dua, sehingga bisa mengamatinya dengan lebih leluasa. Sambil mendengarkan burung-burung yang sedang bernyanyi. Terkadang mengamati orang-orang berkegiatan (dari jauh) juga menjadi salah satu bentuk tidak melakukan apa-apa.

Tidak harus selalu produktif

Ada kata “seni” sebelum “tidak melakukan apa-apa” karena tidak semua orang bisa melakukannya. Butuh latihan, membiasakan diri untuk sekadar doing nothing. Orang-orang kerap kesulitan untuk tidak melakukan apa-apa karena muncul perasaan bersalah. Sebab tidak produktif. Pikiran kita memang sering kali menipu diri sendiri. Ada juga orang-orang yang memang tidak bisa atau tidak suka berdiam diri. Harus selalu sibuk. Setiap waktu harus selalu produktif.

Baca juga :   Stop Kebiasaan Membanding-Bandingkan Pada Anak!

Terkadang tuntutan masyarakat pula yang membuat doing nothing menjadi kian sulit. Selama ini, sibuk atau produktif menjadi nilai yang diagung-agungkan masyarakat. Semakin menjadi-jadi di era media sosial ini. Workaholic, yang sebenarnya termasuk masalah kesehatan mental, malah dianggap sebuah prestasi. Lembur terus sampai tipes, dirawat di rumah sakit, menjadi kebanggaan tersendiri. Diunggah di media sosial.

Hidup ini tidak harus selalu produktif. Sekali-kali tidak apa-apa untuk melamun saja. Belajarlah menikmati berjalannya waktu dengan apa adanya. Tidak melakukan apa-apa.

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi