Selamat Tinggal Wooly

By | August 17, 2022

Beberapa hari lalu aku ditinggal mati oleh kelinci peliharaanku, Wooly. Dia merupakan hewan mamalia pertama yang kupelihara. Mati setelah membersamaiku selama 3 bulan  4 hari.

Aku tidak menyangka bahwa perpisahan akan secepat ini, sedangkan aku sangat berharap bahwa setidaknya dia membersamaiku hingga usiaku 30 tahun. Aku tidak menyangka bahwa tulisanku berjudul “Hewan Peliharaan Baru” harus diganti dengan “Selamat Tinggal Wooly”.

kelinci

3 bulan terakhir merupakan masa-masa yang indah bagiku. Aku seperti memiliki “someone”, tapi yang bukan orang. Aku bisa bercerita apapun, meskipun aku tahu bahwa tidak akan ada tanggapan. Tapi itu tidak menjadi penting ketika yang kamu butuhkan hanya untuk didengar …

Beberapa hari terakhir merupakan hari-hari yang berat bagiku. Hari-hariku seperti hampa. Aku merasakan kehilangan yang amat menyakitkan. Kesepian datang memelukku dengan sangat erat, hingga membuat dadaku sesak.

Kenangan bersama Wooly

Meskipun hanya 3 bulan, aku memiliki banyak kenangan indah bersama kelinciku tercinta, Wooly. Setiap pagi aku duduk di balkon dengannya, menghirup udara yang masih segar sambil melihat pemandangan orang-orang yang mulai sibuk dengan kegiatannya. Aku minum kopi dan kadang-kadang cilok mendampinginya, sambil menulis beberapa ide tulisan atau kerangka tulisan. Sedangkan ia makan Pollard atau sayuran yang ada di balkon. Setiap sore kita berdua tidak melewatkan pemandangan sunset, tetap dari balkon. Langit yang berwarna jingga, burung-burung berterbangan secara berkelompok ke arah timur, seperti hendak pulang ke rumahnya masing-masing. Anak-anak pulang dari mengaji, ada yang menyerbu tukang cilok, ada juga yang main layangan.

kelinci

Kini, hari-hariku tidak akan sama lagi. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk menyirami tanaman agar makanan selalu tersedia untuknya. Aku tidak lagi memandangi sunset sesering 3 bulan terakhir, melihat burung-burung berterbangan pulang ke rumahnya masing-masing. Aku tidak lagi mengantre membeli makanan kelinci di toko pakan hewan. Tidak ada lagi yang menyambutku ketika aku membuka pintu dan menjilati kakiku.

Baca juga :   JUST THINK ABOUT YOURSELF!

kelinci

Berkat Wooly

Adanya Wooly membuat penggunaan gawaiku menurun drastis. Aku lebih mudah menerapkan living in the moment, slow living dan lebih mindfulness. Aku sudah menetapkan bahwa tidak boleh menggunakan gawai setelah bangun tidur dan sebelum tidur setidaknya 30 menit. Adanya Wooly malah memperpanjang jeda tersebut hingga 1 jam.

Ketika aku membuka pintu, ia berlari ke arahku dan menjilati kakiku, dan entah kenapa aku merasa dicintai. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini, karena memang ini kali pertama aku memelihara hewan mamalia.

Salah satu alasanku memelihara kelinci adalah agar mengurangi rasa kesepian. Dan Wooly berhasil melakukannya. Dua bulan pertama, dia masih tinggal satu ruangan denganku (bulan ketiga dia tinggal di balkon, tanpa kandang). Kandangnya berada tidak jauh dari kasurku. Kita tidur bersama, walaupun tidak satu ranjang. Kadang dia juga kuajak mandi bersama (meskipun dia hanya melihat saja). Setelah nonton film horor, biasanya ada perasaan takut-takut sendiri. Adanya Wooly yang satu ruangan denganku berhasil mengurangi rasa ketakutan setelah menonton film horor.

Ok, memang harus diakui bahwa sejak hadirnya Wooly dalam hidupku, aku jadi tidak fleksibel. Aku yang biasanya melakukan perjalanan secara impulsif, tak bisa lagi. Ketika akan melakukan perjalanan, terlebih yang memakan waktu yang panjang, aku harus memastikan bahwa Wooly baik-baik saja. Ada perasaan khawatir juga. Tapi itu setimpal dengan semua yang telah diberikan Wooly padaku.

Kematian Wooly

Pagi itu, ketika aku hendak memberinya makan dan melakukan rutinitas kita berdua di pagi hari, aku mendapati Wooly terbujur kaku. Pagi itu langit berwarna kelabu, seperti ikut bersedih atas kepergian kelinciku tercinta. Aku menguburnya di balkon juga, di sebuah pot besar berbentuk lingkaran. Itu adalah pemakaman pertama yang kuhadiri seumur hidupku (27 tahun), dan aku sebagai penggali kuburnya. Aku mencium pipinya untuk terakhir kalinya, dan tak terasa air mataku menetes, membasahi pusaranya.

Baca juga :   TIGA BERSAUDARA

kelinci

Aku menguburnya dekat denganku, agar aku senantiasa ingat dengannya. Aku masih sedih jika melihat kuburannya. Namun, kini mulai ada tanaman tumbuh di atas pusaranya. Anehnya, bau semerbak wangi juga tercium dari kuburannya. Jika memang surga itu ada. Jika memang ada kehidupan setelah mati, aku sangat ingin berjumpa kembali dengannya. Sampai jumpa lagi, Wooly.

Writer : Bayu Rakhmatullah

2 thoughts on “Selamat Tinggal Wooly

  1. Indy Rin

    Sebagai pecinta hewan, saya ikut sedih baca ceritanya.
    Emang bener hewan itu bisa menjadi teman yang baik buat manusia.
    Semoga kelak ada Wooly lain yang menemani hati kakak. Be strong!

    Reply

Mari Berdiskusi