Satu Tahun Puasa Media Sosial

By | January 1, 2023

Beberapa hari lalu aku resmi mengakhiri puasa medsos (instagram) yang berlangsung selama setahun penuh. Ketika aku memasang aplikasinya kembali, aku mendapati bahwa banyak DM masuk. Kebanyakan menanyakan kabar bla bla bla. Mungkin mereka khawatir kalo ternyata aku sudah mati. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya.

Di zaman sekarang, media sosial seringkali dijadikan acuan tertentu. Misal, jika jarang muncul di medsos, maka dikira sedang tidak baik-baik saja. Atau,

“Kamu udah gak pernah lihat storyku lagi. Kamu marah ya sama aku?”

Loh? Acuan-acuan tak berdasar seperti itu sama halnya dengan prasangka bahwa ketika seorang wanita memotong rambutnya, maka dia telah putus dengan pacarnya. Hahaha.

Ketika menggunakan Instagram kembali, aku menyadari ada hal yang aneh. Ke mana semua teman-temanku ini? Kok yang muncul di berandaku lebih banyak iklan/postingan orang yang tidak kuikuti dibandingkan postingan teman-temanku? Apakah mereka juga tengah melakukan puasa medsos?

puasa media sosial

Sebelumnya, aku sudah rutin melakukan puasa digital/medsos barang beberapa bulan sekali. Entah itu selama beberapa hari/minggu/bulan. Namun, ini menjadi yang paling lama bagiku. Satu tahun!

Laiknya pengalaman puasa medsos sebelumnya, aku menyadari bahwa aku memiliki waktu luang yang melimpah. Meskipun sedari awal penggunaan medsosku cenderung minim, tetap saja perbedaan itu terasa.

Beberapa hari pertama aku merasa mati gaya. Apa yang harus kulakukan di waktu luang ini? Setelahnya aku mulai terbiasa. Aku punya banyak hobi yang bisa kulakukan, seperti membaca buku, nonton film/drama, jalan-jalan dkk. Di sela-sela istirahat dari bekerja yang biasanya digunakan untuk mengintip Instagram, diganti dengan menulis diary atau segala sesuatu yang dirasakan/dipikirkan. Terkadang juga membaca artikel pendek di Medium. Aku memiliki banyak opsi.

Apakah kamu tidak ketinggalan info, Bay? Atau merasa FOMO?

Nope! Aku berlangganan koran Harian Kompas. Itu sudah cukup bagiku. Media sosial tidak pernah menjadi sumber informasi utama bagiku. Selain itu, aku bukan tipe yang selalu mengikuti tren. Aku juga tidak penasaran dengan kehidupan selebriti. Satu-satunya selebriti yang kuikuti adalah Nicholas Saputra.

Baca juga :   Pengalaman Sendiri Adalah Guru Terbaik

Namun, ada juga yang (sayang) kulewatkan. Aku tidak mengikuti 30 Hari Bercerita edisi 2022, padahal itu merupakan kesempatanku untuk mengikutinya selama 5 tahun berturut-turut. Aku juga merindukan diskusi dengan sobat dramaku mengenai dunia perdrakoran. Aku juga melewatkan info pernikahan teman-temanku. Ketika menggunakan Instagram kembali, aku mendapati bahwa banyak sekali teman-temanku yang sudah melepaskan masa lajangnya. Satu per satu menikah …

Sama seperti pengalaman sebelum-sebelumnya, aku menikmati masa puasa media sosial. Malah nagih. Hidupku setahun belakangan cenderung “adem ayem”. Konflik remeh temeh yang bisa muncul dari medsos sirna. Moodku stabil. Dan konsentrasiku makin tajam dan berdurasi lama. Kamu tahulah, terkadang mengintip Instagram sebentar dan mendapati info yang tidak diinginkan bisa membuyarkan konsentrasi dan mood seharian. Menyebalkan!!!

Oh iya, belanja daringku berkurang. Keinginanku untuk pamer juga terkompresi.

“Jangan pamer, Bay! Jangan pamer!”

“Nikmati pemandangan indah ini sendiri saja.”

“Tidak semua hal harus dibagikan di media sosial, Bay!”

Salah satu alasan aku bisa melakukan puasa medsos selama satu tahun adalah karena aku generasi milenial, generasi yang pernah merasakan masa tidak adanya medsos dan belum maraknya internet seperti sekarang. Pun dengan generasi yang lebih tua, X dan Baby Boomers, mereka pernah merasakan masa yang damai itu. Sehingga ketika mereka mengalami adiksi medsos atau gawai, mereka bisa lebih mudah mengatasinya.

Selain itu, aku pernah mengikuti meditasi Vipassana di Bogor selama 10 hari. Selama 10 hari tersebut, aku tidak berbicara dan tidak menggunakan gawai sama sekali. Kegiatanku hanya meditasi, meditasi, meditasi, makan dan tidur. Pengalaman itu membuat kemampuanku untuk mengendalikan penggunaan gawai/medsos meningkat sangat drastis.

puasa media sosial

Sumber : Unsplash

Agaknya mendekati mustahil untuk tidak menggunakan media sosial sama sekali di era digital ini. Tapi, kita bisa membatasi penggunaannya sesekali agar tidak candu. Aku memiliki beberapa tips untuk mengendalikan penggunaan media sosial :

Baca juga :   30 Hari Bercerita

Ada banyak cara untuk membatasi penggunaan media sosial. Pertama, atur batas waktunya. Instagram memiliki menu untuk mengingatkan pengguna jika sudah melewati batas tertentu. Kamu bisa mengaturnya sesuai keinginan, misal 30 menit-1 jam per harinya. Kedua, gunakan media sosial pada weekend saja. Selain itu, kamu bisa uninstall aplikasi medsos tsb. Ketiga, gunakan media sosial melalui browser. User interface media sosial melalui browser tidak lebih ramah dibandingkan melalui aplikasi di gawai. Hal tersebut secara tidak sadar membuatku enggan berlama-lama menggunakan media sosial. Keempat, lakukan puasa media sosial sepertiku. Langkah ini cukup efektif, sekaligus detoks medsos. Alih-alih scrolling Instagram, kamu bisa menghabiskan waktu luangmu dengan melakukan hobi, me time dkk. Sila dicoba mana cara yang paling cocok denganmu!

“What good is social media? You think that you need it, but trust me you don’t!”

 

Writer : Bayu Rakhmatullah 

Mari Berdiskusi