Satu Per Satu Menikah

By | July 31, 2022

Undangan pernikahan datang silih berganti. Setelah dua tahun lamanya, lagu dangdut kembali terdengar hingga tengah malam. Orang-orang mulai ramai melakukan hajatan. Tenda-tenda pernikahan banyak dijumpai di pinggir jalan.

Malam itu, aku pulang ke kampung halaman setelah sekian lama berkelana. Aku mengendarai motor dan mendapati bahwa ada tenda pernikahan di depan rumah teman SMPku. Dia menjadi salah satu teman SMP perempuan yang terakhir menikah. Dia seumuran denganku, 27 tahun. Akhirnya dia menemukan belahan jiwanya yang mau diajak hidup bersama seumur hidup. Aku turut berbahagia atas pernikahannya.

Momen kabar penikahan, terlebih yang kukenal, apalagi yang dekat denganku, seringkali membuatku merenung. Berkontemplasi.

“Kapan giliranku tiba?”

“Akankah giliranku benar-benar tiba nantinya?”

Hingga aku menyadari bahwa keputusanku adalah fokus karir, alih-alih menikah. Kemudian, pertanyaan lanjutan muncul.

“Sudah tepatkah keputusanku untuk melajang, fokus pada karir?”

Sekali lagi aku tekankan bahwa aku turut berbahagia. Namun harus kuakui bahwa, selain membuatku merenung, kabar pernikahan orang lain, terlebih yang terdekat denganku, kadang juga membuatku merasa insecure.

Fokus karir

Tapi, lagi-lagi, dan pada akhirnya “aku”lah yang menang. Ambisi dan impian pribadi mengalahkan perasaan rapuh dan insecure tersebut. Aku kembali yakin bahwa keputusanku untuk melajang, fokus pada karir, fokus pada diri sendiri terlebih dahulu, adalah keputusan yang bijak untuk saat ini.

I value my self more than anyone else.

digital nomad

Sumber : Unsplash

Fokus pada karir bukan berarti aku sama sekali tidak mencari calon pasangan. Radarku senantiasa on untuk mencari belahan jiwa. Namun, aku juga menetapkan batasan. “Jika aku tak kunjung menemukan belahan jiwaku, the right one, hingga aku berusia 30 tahun, maka aku akan melajang selamanya, tidak menikah.”

Baca juga :   Senin

Batasan tersebut mengijinkan diriku untuk menyerah. Karena aku tahu betul bahwa mencari dan menanti terus-terusan sangat melelahkan. Aku boleh menyerah. Dan itu membebaskan, liberating.

Pengaruh drama Korea

Selain pengalaman pribadi (yang utama), drama Korea juga menguatkan pilihanku untuk tidak menikah terlebih dahulu. Banyak kisah yang berpesan untuk fokus karir atau meraih impian, alih-alih menikah muda. Dan aku setuju dengan opini tersebut. Selain itu, kini sudah jarang drama yang menjadikan adegan pernikahan sebagai happy ending. Klise!!! Di kehidupan nyata pun, kebanyakan dari aktor-aktor tersebut tidak menikah muda. Mereka memilih untuk lebih fokus pada karir.

Sumber : Unsplash

Melajang di usia yang tidak muda lagi (30an atau 40an) bukanlah perkara mudah. Begitu pula dengan menikah muda (awal 20an) juga bukan hal yang mudah. Aku kagum dengan orang-orang yang berani menikah muda. Bagaimana bisa mereka berkomitmen sehidup-semati di usia yang masih muda seperti itu? Sedangkan di usia tersebut aku masih belum selesai dengan diri sendiri. Bahkan di usiaku yang sekarang, komitmen masih merupakan hal yang menakutkan.

Suara dalam hati

Setelah menikah, (sudah seharusnya) urutan prioritas berubah. Keluarga (orang tua dan saudara) yang tadinya di urutan teratas, turun peringkat ketika sudah menikah. Aku sama sekali bukan family man. Bahkan keluarga bukan yang nomor 1 bagiku, aku yang nomor 1 dalam hidupku. Maksudku, aku tidak ingin keluargaku semakin turun peringkat lebih bawah lagi daripada posisi yang sekarang, gara-gara aku menikah. Naif memang …

“How amazing is it to find someone who wants to hear about all the things that go in your head?”

menikah

Sumber : Unsplash

Bagaimapun juga menemukan orang yang tepat, yang bisa diajak bercerita dari A-Z, berkeluh-kesah tanpa takut dihakimi, mencintai kita apa adanya, dan mau hidup bersama merupakan salah satu kebahagiaan tertinggi seorang manusia. Selamat bagi kamu yang telah menemukannya. Tapi, aku juga aku percaya bahwa soulmate tidak melulu harus menikah/pasangan suami-istri. Iya, kan?

Baca juga :   Sahabat Baru

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi