PETUALANGAN DI NTT

β€œOnce you have traveled, the voyage never ends, but is played out over and over again in the quitest chambers. The mind can never break off from the journey”

Begitulah ungkapan dari seorang Pat Conroy. Aku pun mengalami hal tersebut. Pikiranku tidak bisa lepas dari rencana-rencana untuk melakukan suatu petualangan. Aku seperti candu akan sebuah perjalanan.

1 bulan yang lalu aku melakukan perjalanan ke Tual, Maluku Tenggara dengan teman-temanku. Aku berangkat ke Tual menggunakan kapal pelni dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Perjalanan menuju Tual memakan waktu 4 hari, sedangkan perjalanan pulang ke Surabaya memakan waktu 8 hari.

Pikiranku yang dipenuhi dengan rencana-rencana liburan pun berhasil menemukan celah untuk memotong waktu kepulangan yang terlalu lama. Perjalanan Tual ke NTT hanya membutuhkan waktu 3 hari, sedangkan sisanya bisa dilakukan dengan naik pesawat menuju Surabaya. Sebelumnya, aku telah menghubungi seorang kakak seorganisasi yang tinggal di Kupang untuk menemaniku jalan-jalan di Kupang. Kak Sonya namanya. Dia menerima permintaan tolongku tersebut.

Yeah, aku menginjakkan kaki di NTT. Aku sampai di pelabuhan Tenau saat tengah malam. Malam itu begitu spesial, karena adanya gerhana bulan (16 Agustus 2017). Kak Sonya tidak bisa menjemputku karena saat itu tengah malam. Aku memutuskan untuk menginap di pelabuhan sampai pagi dan berangkat ke rumahnya Kak Sonya sesuai dengan arahannya. Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan β€œbackpacker” sendirian. Malam itu, aku menari di bawah gerhana bulan.

Matahari sudah terbit dari timur. Aku berangkat menggunakan jasa ojek ke tempat pemberhentian mobil pick up. Aku disuguhi pemandangan indah tepat saat aku meninggalkan pelabuhan. Jalanan yang sepi dan halus serta pemandangan laut yang indah membuatku tidak sabar untuk memulai petualangku di NTT ini. Berikut adalah beberapa tempat wisata yang sempat kukunjungi yang membuatku ingin kembali ke NTT :

  1. AIR TERJUN OEHALA

NTT

 

Air Terjun Oehala. Tempat wisata ini terletak di Soe, Nusa Tenggara Timur. Aku berangkat dengan Kak Sonya menggunakan sepeda motor.

Objek wisata ini tak begitu ramai, juga tak sepi-sepi amat, sangat cocok untuk dijadikan destinasi tujuan sambil menjernihkan pikiran. Saat aku dan kak sonya datang, sudah ada 6 orang disitu. Mereka sedang asyik makan sambil menikmati pemandanan yang ada. Pohon-pohon hijau yang rindang, suara aliran air, dan kicauan burung-burung benar-benar membantu mendamaikan hati yang sedang gundah gulana.

Jangan tanyakan airnya! Begitu jernih dan menyegarkan. Seketika aku langsung segar ketika mengusap mukaku dengan air tersebut. Ada juga tempat yang cukup luas dan lebih dalam daripada tempat lainnya, yang bisa digunakan untuk mandi. Gak bisa bayangin kan bagaimana segarnya mandi di Air Terjun Oehala yang terletak di Soe, yang termasuk dataran tinggi di NTT.

Come here guys! Travel more, explore more. Jangan khawatir dengan jarak yang cukup jauh, karena dalam perjalanannya akan disuguhi pemandangan ala-ala dataran tinggi yang menyegarkan mata.

 

  1. CAGAR ALAM MUTIS

 

NTT

“Selamat datang di Cagar Alam Mutis.” Begitulah sambutan dari pohon-pohon hijau nan rindang ini. Kawasan wisata Cagar Alam Mutis ini terletak di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Untuk sampai di tempat wisata ini, aku harus melewati jalan yang membuatku sakit hati, bahkan aku dan kak sonya dibuatnya jatuh dari sepeda motor.

Tapi tak apa, itu sebanding dengan pemandangan yang kudapatkan. Ada gunung-gunung batu marmernya. Ada juga hutan ala-ala film The Lord of The Ring. Sebagai bonusnya aku juga akan mendapati kawanan sapi dan kuda yang sedang asyik makan.

Tidak hanya di kawasan Cagar Alam Mutis, aku juga disuguhi pemandangan indah selama perjalanan. Kawasan pohon cemara, bukit-bukit indah, dan juga padang rumput ala-ala New Zealand lengkap dengan sapi-sapinya. Sungguh pemandangan yang indah dan menghabiskan banyak memori kameraku.

Tidak berhenti di situ. Aku juga mendapati suatu fenomena yang jarang sekali aku dapatkan di daerah-daerah lain. Saat perjalanan pulang, ketika banyak sekali anak-anak yang kutemui di pinggir jalan atau di lapangan saat sedang main, mereka dengan ramahnya menyapaku dan kak sonya yang sedang mengendarai sepeda motor. Mereka berhenti dari aktivitasnya. Beberapa bahkan ada yang berjalan mendekati tepi jalan agar lebih dekat. Kemudian, mereka serempak berteriak, “Daa daa (ucapan selamat jalan)” sambil melambaikan tangan. Tak lupa dengan senyuman manis mereka. Aku dan kak sonya juga tak mau kalah. Kulambaikan tangan kiriku sambil berteriak serupa dengan mereka. Begitulah seterusnya setiap bertemu dengan anak-anak.

Kata kak sonya, begitulah kebiasaan anak Kabupaten Timor Tengah Selatan dan sekitarnya ketika bertemu dengan orang baru. Sungguh ramah sekali. Sebagai tambahan, alangkah baiknya jika berangkat pagi-pagi untuk menjelajahi Kawasan Cagar Alam Mutis secara keseluruhan.

  1. KM 12

 

NTT

Lokasinya di km 12. Lokasi ini merupakan tempat hits yang biasa dikunjungi oleh masyarakat sekitar untuk menghabiskan waktu di senja hari atau sekadar mengambil foto untuk orang-orang yang baru pertama kali melihatnya. Tempat ini merupakan salah satu puncak bukit, sehingga dari sini bisa melihat keindahan pemandangan di bawahnya.

Km 12 merupakan tempat yang dilewati saat hendak ke tempat wisata Air Terjun Oehala dan Cagar Alam Mutis. Begitu sebaliknya ketika hendak kembali menuju Soe. Kala itu, aku dan kak Sonya pulang dari Cagar Alam Mutis.  Dalam perjalanan pulang aku mendongakkan kepala secara terus-menerus. Harapanku terkabul, langit cerah dan bintang-bintang terlihat sangat jelas di atas sana. Tidak hanya itu, bintang-bintang ini terlihat jelas di semua sisi. Sungguh beruntungnya diriku bisa melihat pemandangan seperti ini.

Sebenarnya aku ingin mengambil foto di atas bukit tersebut, dekat dengan pohon keramat. Aku juga ingin menghabiskan waktu minimal 30 menit disana. Akan tetapi, kak sonya ketakutan karena sangat sepi dan merupakan tempat yang rawan. Tidak lama kemudian ada tentara lewat. Seketika otakku bekerja untuk mengatasi kekhawatiran kak Sonya.

“Halo dek, lagi ngapain?” sapa bapak tersebut terlebih dahulu.

“Bapak boleh minta tolong?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Bolehkah kita ditemani sebentar untuk mengambil foto bintang tersebut? tambahku.

Setelah ditambahi beberapa penyataan dari Kak Sonya, bapak tersebut mau menemani kita berdua. Tapi tetap saja, rasanya waktu yang diberikan masih kurang cukup bagiku. Aku salah mengambil langkah. Seharusnya aku menjelaskan lebih awal ke kak sonya bahwa jangan takut jika travelling denganku. Aku cukup berani dan bisa bela diri bahkan jika berhadapan dengan penjahat sekalipun.

Lain kali. Itulah jawabannya. Mungkin aku memang harus kembali berkunjung ke kak sonya dan hunting foto di tempat yang satunya lagi (tempat yang lebih bagus untuk hunting foto bintang). Masih banyak tempat wisata di NTT yang belum kukunjungi. Begitulah kisahku mengunjungi beberapa tempat wisata di NTT.

 

0