Perlukah Aku Menikah?

By | April 24, 2021

Sejak gagal dalam hubungan percintaan 2 tahun silam, keinginanku untuk menikah cenderung menurun. Kala itu, dia menjadi satu-satunya sosok yang ada dalam bayanganku untuk membangun bahtera rumah tangga. Ternyata aku gagal, patah hati. Dalam beberapa hal, aku cenderung mudah menyerah, hingga aku tidak mencoba membangun hubungan dengan orang lain lagi hingga sekarang.

Setahun silam, ketika aku sudah merasa agak baikan (dari patah hati) dan ada banyak undangan pernikahan ketika masa pandemi, pertanyaan ini muncul di benakku.

“Perlukah aku menikah?”

Maksudku, aku sekarang baik-baik saja loh, walaupun tanpanya. Ok, aku memang mengalami patah hati dan gagal move on selama setahun, tapi aku sekarang sudah baik-baik saja loh. Itu yang paling penting. Kini, aku sudah tidak memiliki lagi alasan yang cukup kuat untuk menikah. Pun tidak ada urgensi yang membuatku harus menikah.

tidak menikah

Sumber : Pixabay

“Biar kamu ada teman perjalanannya Bay, gak solo traveling mulu.”

Hahaha. Bukan nikah solusinya kalo gitu. Cukup cari teman perjalanan aja. Toh aku juga menikmati solo traveling.

Bagi kalian yang masih ragu-ragu mau menikah atau tidak, bingung mau menikah dalam waktu dekat atau nanti saja, bingung fokus karir atau menikah aja, atau bahkan yang sudah muak ditanya “kapan nikah?”, coba pahami dulu tujuan kalian menikah. Tanyakan pada diri sendiri alasan kalian menikah.

“Apa tujuanku menikah?”

“Apa alasanku menikah?”

“Agar ada yang masakin.”

Bukan menikah solusinya. Bukan istri yang kamu butuhkan, melainkan koki. Atau bejalar masak sendiri!

 

“Agar ada yang menafkahi.”

Bukan suami solusinya, kerja sendiri. Jangan bergantung pada orang lain!

 

“Biar dapat all in one, ada yang ngurusi, masak, teman hidup, gak kesepian dkk. Lumayan kan.”

Baca juga :   Hadiah Untuk Diri Sendiri

Bajingan!

 

“Udah capek berusaha keras dalam hidup ini. Nikah aja.”

Hahaha. Solusinya capek itu istirahat. Dikira nanti kalo udah menikah gak bakal capek?

 

“Orang tuaku mendesakku untuk menikah, mereka ingin melihatku menikah sebelum mereka meninggal. Setidaknya anak laki-laki satunya ada yang mengurus nantinya”

Hmm, selama menikah itu adalah keinginanmu juga, maka menikahlah. Jika bukan keinginanmu sendiri, ya tidak perlu menikah. Toh tidak menikah bukan berarti tidak bisa bahagia bukan? Yang menjalani hidupmu adalah dirimu sendiri, bukan orang tuamu.

 

“Teman-teman seangkatanku sudah banyak yang menikah, bahkan sudah memiliki anak. Tinggal aku.”

Hahaha. Menikah itu bukan ajang kompetisi dengan yang lain loh. Gak capek ya hidupnya berkompetisi mulu sejak kecil hingga tua?

tidak menikah

Sumber : Pixabay

 “Aku sudah tidak bisa menahan nafsu berahiku lagi. Nikah solusinya, daripada zina?”

Coba tanyakan terlebih dahulu ke calon suami/istrimu, mau kah dia menjadi pelampiasan nafsu berahimu? Jika sama-sama mau, menikahlah.

Walakin, sebenarnya sah-sah aja menjadi bajingan atau menikah dengan alasan-alasan di atas. Toh memang keputusan ada di tangan masing-masing. Tapi, coba renungkan kembali!

Tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk menikah hanya gara-gara sudah menginjak usia menikah, sekalipun orang tua sendiri. Memang bangsat orang-orang yang hobinya ngurusin hidup orang lain, tanya “kapan menikah?” mulu. Tapi, ketika kamu memiliki prinsip yang kuat dan tahu dengan jelas alasannya, seharusnya pertanyaan itu tidak mengganggumu.

Selama ini memang pernikahan terlalu dielukan-elukan oleh sebagian besar orang, overrated, dianggap sebagai pencapaian yang amat besar dalam hidup. Jika tidak menikah, maka kamu gagal. Padahal tidak begitu.

Just because most people do, doesn’t mean I have to, right?

 

Baca juga :   LITTLE FOREST

Writer : Bayu Rakhmatullah

 

Mari Berdiskusi