PERJUANGAN MENUJU PUNCAK KAWAH IJEN

Kawah Ijen

Awalnya, rencananya, niatnya, perjalanan ini merupakan solo travelling bagiku. Papi, mami, dan kedua kakakku sudah meridhoiku untuk melakukan perjalanan ini, ditambah dengan tantangan uang saku yang sangat secukupnya. Namun, di tengah perjalanan, tidak, bahkan masih di awal, semua rencana ini gagal. Aku turun di stasiun yang salah. Butuh beberapa waktu sejenak bagiku untuk menyadari kegagalan ini, ditambah waktu yang sudah malam dan ini merupakan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Banyuwangi (masih amatiran banget pokoknya).

Singkat cerita, aku memutuskan untuk jalan kaki entah sampai mana atau bahkan sampai kawah ijen (sumpah ini naif dan bloon banget). Setelah beberapa puluh meter, ada seorang malaikat menawari tumpangan. Omo omo omo, tanpa curiga akan diculik atau sebagainya, aku mengiyakan tawaran tersebut. Aku diantarkan sampai alun-alun Banyuwangi. Terima kasih mas’e, kebaikanmu masih kuingat sampai sekarang.

Terus, apa selanjutnya setelah sampai di alun-alun Banyuwangi? Hmm, masjid tutup, aku tidak bisa menginap disana. Aku menghubungi keluargaku, menceritakan semua kejadian yang barusan kualami. Mereka hanya tertawa mendengar ceritaku yang menyedihkan ini. Ini merupakan kebiasaanku ketika aku panik dan gabut dalam perjalananku ke suatu tempat yang asing. Mendengarkan mereka tertawa memberikan kekuatan tersendiri bagiku.

Oh iya, aku memiliki berbagai “opsi” teman yang bisa kumintai tolong. Pilihan jatuh pada Mas Nain, yang pastinya memiliki hati yang baik hati. Pilihanku benar, dia menjemputku ke alun-alun Banyuwangi dari rumahnya, Genteng (sumpah itu jauh banget).

Perjalanan dimulai, Mas Nain setuju menemaniku untuk pergi ke Kawah Ijen (padahal rencananya sendirian, wkwkwk). Perjalanan tidak lancar begitu saja, sepeda motor yang digunakan tidak kuat untuk tanjakan. Beberapa kali, aku dan dia bergantian untuk turun. Tapi, lama kelamaan ada rasa sanksi dari mas Nain, yang berujung dia ingin segera kembali. “Tidaaaak,” ucapku. Perdebatan dimulai dan dimenangkan olehku. Langit mendukungku, datanglah satu malaikat lagi yang menawarkan tebengan padaku sampai pintu masuk kawah ijen. Omo omo omo, Tuhan benar-benar memberkati perjalananku ini.

Belum selesai, perdebatan masih terus terjadi (aku emang hobi berdebat kalo lagi travelling, oleh karena itu aku cenderung lebih memilih solo traveling). Mas Nain, yang dapat dikategorikan sebagai orang yang gemuk mengalami kesusahan ketika mendaki. Setiap beberapa langkah, dia meminta istirahat. Pendakian normal membutuhkan waktu 2-3 jam, kita berdua hampir 2 kalinya. Lama kelamaan kalimat yang begitu aku benci keluar dari mulutnya. “Bay, pulang aja yuk. Aku udah gak kuat lagi. Sumpah,” seketika aku ingin merubah menjadi super saiyan Bayu. Aku marah dan memakinya berkali-kali (sungguh ini tak elok dan tak tahu diri atas semua bantuan yang diberikan oleh Mas Nain padaku).

Kawah Ijen

Mas Nain merenungi semua makian dan amarahku. Aku menambahkan bahwa tak masalah jika istirahat berkali-kali, asalkan kita terus maju. Dia setuju. Sebenarnya, aku juga suka istirahat (wkwkwk). We did it. Kita sampai di puncak kawah Ijen. Dia sungguh tak percaya, kagum bahwa dia bisa melakukannya. Dia mengucapkan banyak terima kasih padaku atas semua amarah, makian, dan dukungan padanya, sehingga seenggaknya dia bisa menaklukkan satu gunung dalam hidupnya. Seharusnya, akulah yang berterima kasih padanya. Terima kasih banyak Mas Nain. Nanti, aku akan mengunjungimu lagi ke Banyuwangi.

Writer : Bayu Rakhmatullah

1