Microhabitat

By | October 25, 2022

“For me cigarette, whiskey, and you (her boyfriend), that’s my only relief.”

Dalam film berjudul Microhabitat, Esom berkata bahwa rokok, wiski, dan pacarnya adalah ketiga hal yang bisa menjaga martabatnya. Namun, seiring bertambahnya waktu, biaya hidup semakin mahal. Ia harus mengorbankan sesuatu agar tetap bisa membeli rokok dan wiski. Ia mengorbankan indekosnya dan memilih untuk menumpang di rumah teman-temannya untuk menghemat biaya.

Film ini sangat reflektif dan cenderung liberating. Kemudian aku berpikir, “Apa yang membuatku tetap menegakkan kepala di dunia yang keras ini?”

Apa yang harus kupertahankan sekuat tenaga, sampai aku harus mengorbankan hal yang lain?

Apa yang membuatku merasa tetap menjadi manusia, sekalipun hidup terus mengujiku?

Aku memiliki 4 hal yang sama seperti rokok dan wiski bagi Esom, yaitu kopi, kamera, koran/buku dan film. Keempat hal ini harus terpenuhi, betapapun miskinnya aku.

Kopi

4 tahun lalu, ketika aku melakukan perjalanan keliling Pulau Sumatera, aku menyadari bahwa aku bukan sekadar menyukai kopi, melainkan membutuhkannya. Ketika berada di Aceh, hampir setiap hari aku minum kopi. Aku keliling ke berbagai kafe yang menawarkan cita rasa yang otentik.

Ketika minum kopi, aku cenderung menjadi lebih tenang. Pikiran-pikiran yang awalnya rumit terurai rapi ketika minum kopi. Setiap tegukannya terasa berharga, tidak buru-buru, dan memiliki makna. Bukan sekadar air yang masuk ke tenggorokan kemudian keluar melalui penis.

Ketika aku membutuhkan inspirasi untuk menulis, aku akan minum kopi. Lantas ide-ide berdatangan. Entah karena suasana kafe yang amat mendukung atau karena kandungan kafein yang membuat pikiran lebih fokus? Kopi + rokok merupakan kombinasi yang sempurna, meskipun rokok belum mencapai level untuk masuk dalam daftar 4 hal tsb.

Minum kopi merupakan rutinitas yang amat kuhargai dan terus kujaga hingga kini.

Kamera

kamera

Sumber : Unsplash

Ketika aku traveling, kamera adalah salah satu barang yang tidak boleh ketinggalan. Kamera harus selalu ada di dalam tasku. Sebelum melakukan perjalanan, terkadang aku sudah merencanakan/memperkirakan bahwa perjalanan kali ini tidak memerlukan kamera, tapi aku tetap membawanya, untuk jaga-jaga. Meskipun pada akhirnya ada momen ketika aku tidak ingin mengabadikannya melalui kamera, hanya lewat ingatan saja, aku tetap tidak menyesal membawa kamera.

Entahlah, aku lebih prefer memotret dengan kamera DSLR dibandingkan ponsel. Pegangannya lebih kokoh. Ketika kamera dikalungkan ke leherku atau ketika kupegang, tiba-tiba rasa percaya diriku meningkat. Kamera juga mengajarkanku tentang kehidupan, yaitu tentang sudut pandang. Gara-gara kamera, aku terbiasa melihat dari berbagai sudut pandang. Aku juga lebih mudah menentukan sudut pandang yang terbaik (fokus pada sisi yang positif dibandingkan yang negatif).

Baca juga :   Berahi Digital Antara Aku dan Gawai

Awalnya traveling masuk ke daftar ini juga, tapi pandemi membuktikan hal yang lain. Ternyata aku bisa tanpa melakukannya. Aku juga bisa menjadi homebody, seseorang yang menyukai berkegiatan di rumah dan jarang keluar rumah.

Koran/buku

koran

Sumber : Unsplash

Setiap pagi aku membaca koran Harian Kompas. Kadang ditemani oleh kopi, teh, roti, apel, atau cilok. Rasanya seperti ada yang kurang jika belum membaca koran. Aku tidak membaca semua artikelnya, hanya beberapa saja dari rubik ekonomi, internasional, nusantara, opini, sastra, humaniora, lingkungan, psikologi. Aku paling suka koran Harian Kompas edisi Sabtu dan Minggu.

Dulu, aku sempat berlangganan beberapa koran sekaligus. Tujuannya agar memperkaya perspektif. Namun, hal itu malah membuat waktuku tersita begitu banyak hanya untuk membaca koran, meninggalkan novel. Akhirnya aku memutuskan hanya berlangganan satu koran saja, yaitu Harian Kompas, agar aku juga memiliki waktu untuk membaca buku.

Koran merupakan sumber informasi yang utama bagiku. Bukan media sosial, bukan pula televisi. Aku sudah lama tidak menonton televisi. 10 tahun lebih?

Yang kusuka dari koran adalah informasi yang lebih terpercaya karena dibuat melalui proses jurnalisme yang ketat dan panjang. Tulisan di koran juga cenderung lengkap dan mendalam, bukan sepotong-potong. Tidak ada iklan. Oleh karena itu, aku berlangganan koran, juga untuk memberikan dukungan pada jurnalisme yang berkualitas.

Namun, terkadang membaca koran juga membuat jenuh, muak dan melelahkan. Terlalu banyak kabar buruk, korupsi, kejahatan, bencana, resesi dkk. Ketika aku merasakan kejenuhan tsb, aku akan berhenti sementara waktu (beberapa pekan) untuk tidak membaca koran. Dalam kurun waktu tersebut aku lebih banyak membaca buku.

Film

Mubi, Netflix, VIU dkk adalah aplikasi yang memiliki anggaran tersendiri tiap bulannya. Anggaran itu harus ada bagaimanapun caranya agar aku bisa nonton film kapanpun dan di manapun. Sejak adanya platform OTT, menonton film jadi lebih mudah. Aku bisa mengakses film dari berbagai penjuru dunia hanya melalui gawai.

sesuatu yang berharga

Sumber : Unsplash

Ketika menonton film aku akan mematikan paketan data agar tidak ada distraksi. Aku akan mengunduh filmnya terlebih dahulu agar bisa ditonton secara offline. Sama halnya ketika nonton film di bioskop, aku akan mematikan ponselku. Oleh karena itu aku merasa aneh jika ada orang yang masih sibuk dengan gawainya ketika nonton film, terlebih di bioskop. Kok bisa-bisanya seperti itu?

Baca juga :   Biarkan Waktu yang Bekerja

Aku fokus ketika nonton film. Film terlama yang kutonton dalam sekali duduk bahkan sampai 4 jam, yaitu An Elephant Sitting Still.

Di zaman yang serba cepat ini, memberikan waktu untuk diri sendiri, me time, 2-3 jam sehari untuk menonton film merupakan momen yang sangat berharga bagiku. 2-3 jam fokus menikmati film, melupakan sejenak perkara hidup. Menonton film di malam hari. Kemudian ditutup dengan menulis diary, dan bobok.

Film bagiku bukan sekadar hiburan semata. Lebih dari itu. Sama halnya dengan buku, film mampu membawaku ke dunia baru. Menonton film menjadi momen yang reflektif bagiku. Ketika/setelah menonton film, aku banyak berkontemplasi tentang hidup itu sendiri. Bahkan aku lebih menurut pada film dibandingkan nasihat yang diberikan secara langsung oleh orang lain. Karena melalui film aku merasa tidak dihakimi atau didekte. Pesannya begitu halus, tersirat, tidak melulu tersurat. Aku bebas menentukan pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara/penulis. Terkadang muncul perasaan bangga dan haru ketika berhasil menonton film yang amat bagus.


Kopi, kamera, koran/buku, dan film adalah sesuatu yang amat berharga di dalam hidupku. Keempat hal tersebut adalah kemewahan tersendiri bagiku, yang harus senantiasa terpenuhi agar aku bisa menjalani hidup ini dengan kepala yang tegak. Aku akan mempertahankan keempat hal tersebut sekuat tenaga, bagaimanapun kondisi keuanganku.

Kopi, kamera, koran/buku dan film bagiku sama halnya seperti rokok dan wiski bagi Esom di film Microhabitat. Apakah kalian juga memiliki sesuatu yang berharga seperti itu?

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi