Melambat

By | November 15, 2021

Q : Sebutkan kelemahanmu!

A : Hmm, kelemahanku saat ini adalah aku cenderung lambat.

Q : Bagaimana itu maksudnya?

A : Ah, aku tidak segercep dulu. Jalanku, makanku, dan lainnya. Pokoknya yang berhubungan dengan fisik, aku yang sekarang cenderung melambat. Atau bisa dikatakan aku cenderung santai dalam melakukan sesuatu. Aku yang sekarang tidak suka terburu-buru.

*Itu adalah sedikit cuplikan ketika aku diwawancarai.

Memasuki usia 20an, pergerakanku mulai melambat. Aku sudah tidak gercep lagi. Awalnya aku tidak begitu sadar, sampai akhirnya 3 tahun lalu,  temanku menegur, sekaligus menunjukkan betapa lambatnya aku.

“Yu, gini loh pergerakanmu!”

“Sumpah?” aku terkejut sekaligus ngakak ketika temanku menunjukkan reka ulang pergerakanku yang lambat.

Dari situ aku menyadari pula bahwa sebagian besar kegiatanku kulakukan secara lambat, makan, jalan kaki, mengendarai motor dkk. Tidak seperti ketika remaja sampai awal 20, yang serba cepat dan terburu-buru. Yup, karena saat ini aku tidak memiliki alasan lagi untuk terburu-buru, oleh karena itu aku cenderung mulai melambat.

Slow living

Kini, aku dengan sadar menjalani hidup dengan mode yang lambat, atau biasa dikenal sebagai slow living. Di dunia yang dituntut serba cepat ini, aku malah memilih untuk memperlambat tempo hidupku. Aku tidak ingin terlalu didekte oleh teknologi, pun oleh standar masyarakat yang menuntut kecepatan.

Mengurangi penggunaan media sosial

Aku ingin menceritakan beberapa hal yang kulakukan untuk memperlambat tempo hidupku. Mengurangi penggunaan media sosial menjadi hal wajib bagiku untuk menerapkan slow living. Kedua hal ini, media sosial dan slow living memang sangat berkaitan.

Di era banjir informasi seperti saat ini, persebaran informasi/berita begitu cepat, salah satunya melalui media sosial. Informasi yang cepat dan berlimpah tersebut terkadang membuat jengah, bingung dan juga muak. Padahal kalo dipikir-pikir, (kebanyakan ) informasi tersebut tidak terlalu penting/dibutuhkan bagi hidup kita.

Baca juga :   Bosan

Awalnya aku membatasi pengunaan media sosial hanya 1 jam/hari. Tapi, aku mendapati bahwa 1 jam itu masih terlalu banyak dan terkadang juga mampu mengganggu ritme fokus dan mood-ku. Kemudian aku menguranginya menjadi 30 menit, terus menguranginya lagi, hingga saat ini penggunaan media sosialku menjadi 20 menit/hari.

Tak jarang juga, dalam beberapa periode aku memutuskan untuk puasa digital, uninstall media sosial dalam jangka tertentu untuk sejenak mengambil “jeda”. Hal ini terbukti sangat efektif pada keseharianku, aku jauh lebih fokus dan tenang.

Selain mengurangi penggunaan media sosial, kini aku juga sudah tidak memakai whatsapp lagi (untuk nomor pribadi). Keputusan ini lebih ekstrem, hingga ada beberapa orang yang protes padaku karena lebih sulit dihubungi. Tapi, ini hidupku, aku tidak perlu persetujuan orang lain atas pilihanku sendiri.

Memasak sendiri

Belakangan aku mulai rutin memasak sendiri, alih-alih makan di luar. Aku menikmati setiap prosesnya, mulai dari masak nasi, mengambil sayur yang sebagian juga tersedia di pekarangan rumah, dan memasaknya. Butuh proses, yang membutuhkan energi dan waktu hingga makanan siap dinikmati. Cukup melelahkan memang, dibandingkan makan di luar yang tinggal menunggu makanan sampai di meja makan. Tapi, proses memasak sendiri itulah yang merupakan slow living, yang jika diamati lebih dalam bisa menjadi healing tersendiri.

slow living

Sumber : Pixabay

Memasak sendiri juga menimbulkan rasa kepuasaan tersendiri. Aku jadi lebih mudah bersyukur atas makanan yang telah kumakan. Makan juga tidak terburu-buru dan dinikmati setiap suapnya. Proses memasak dan makan saja sudah menjadi kegiatan yang mampu membuatku berefleksi tentang banyak hal.

Melambat

Slow living

Sumber : Pixabay

Seperti yang tertulis di cuplikan wawancaraku, bahwa sebagian besar kegiatan fisikku cenderung melambat. Dulu ketika masih remaja, kecepatan rata-rata mengendarai motor mencapai 70-90 km/jam. Kini, hanya 40-60 km/jam. Aku lebih menikmati perjalananan, sambil mendengarkan musik melalui earphone. Pun juga dengan jalan kaki. Sudah tidak ada lagi jalan cepat dalam kamus hidupku. Ketika sebagian besar orang berjalan cepat di tempat umum, misal bandara, stasiun kereta api, mall, dkk (padahal juga tidak sedang dikejar waktu), aku tetap berjalan lambat. Pun ketika pendakian, aku membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu rata-rata kebanyakan orang. Aku ingin lebih menikmati perjalanan dan pemandangan sekitar.

Baca juga :   Melawan Kedunguan dengan Rutin Membaca Buku

Slow living membantuku untuk menikmati setiap momen hidupku, juga living in the moment. Aku yang sudah tidak memiliki alasan untuk melakukan hal secara terburu-buru, memberikan banyak waktu bagiku untuk merefleksikan banyak hal. Aku menjadi lebih peka, baik pada yang terjadi pada diriku sendiri maupun di sekitarku. Seperti halnya ketika berjalan kaki, aku memiliki lebih banyak waktu untuk melihat sekitar secara mendalam dibandingkan ketika aku berlari.

slow living

Sumber : Pixabay

Sejak aku memutuskan secara sadar untuk memperlambat tempo hidupku, aku menjadi lebih tenang dan damai. Konflik yang tidak penting-penting amat sirna atau jauh berkurang. Kegiatan sehari-hari yang tampak biasa saja menjadi lebih bermakna bagiku. Pada akhirnya, aku tidak lagi memandang “melambat” sebagai kelemahanku, tapi sebagai sebuah kebijaksanaan.

 

Writer : Bayu Rakhmatullah 

7 thoughts on “Melambat

  1. Anggita R. K. Wardani

    Aku juga punya pengalaman yang sama cuma perkaranya rezeki sih. Kalo dulu aku mesti cepet2 an ambil job kerjain grusa grusu. Tapi hati jadinya ga tenang. Sekarang lebih santai aja sih. Kalo bisa ya lakuin kalo enggak yaudah istirahat dulu. Eh malah rezekinya ngalir sendiri tanpa dicari.

    Reply
    1. Bayu Rakhmatullah Post author

      Yup, bener sekali. Aku juga pernah seperti itu, lebih spesifiknya mengenai pencapaian. Ketika memutuskan untuk tidak terburu-buru, santai aja, eh pencapaiannya malah lebih besar. Dinikmati aja sih prosesnya. 😉😂

      Reply
  2. Indy Rin

    Totally agree, kak!
    Slow living artinya menikmati tiap jengkal hidup. Saya dulu jg tipe yg mengejar2 pencapaian. Pingin sukses semuda mungkin. Tp sekarang lebih ingin menikmati hal-hal kecil dan sederhana. Jadi merasa lebih peaceful

    Reply
    1. Bayu Rakhmatullah Post author

      Setuju. Aku juga dulu pernah seperti itu 😑☹️

      Kalo dipikir-pikir juga/direnungi lebih dalam, buat apa juga buru-buru? Penting banget kah? Padahal ketika buru2 cenderung tidak menikmati proses. Malah kek terlihat “sengsara” gitu.

      Jadi, sebuah keputusan yang bijaksana untuk menikmati tiap jengkal hidup ini (re : slow living).

      Reply

Mari Berdiskusi