LITTLE FOREST

Ketika aku menjelajah instagram, aku mendapati unggahan yang merekomendasikan film-film Korea yang menceritakan tentang kasih sayang seorang ibu. Dari 8 film yang direkomenasikan, hanya 3 yang belum kutonton, salah satunya Little Forest. Karena penasaran, akhirnya kuteguhkan hatiku untuk menonton film tersebut, apalagi ada mbak Kim Tae-ri yang aktingnya sangat ciamik di Mr. Sunshine.

Little Forest

Sumber : Hancinema.net

Film ini menceritakan tentang seorang gadis muda bernama Hye-won, yang terpaksa pulang kampung karena gagal mewujudkan ambisinya di kota. Namun, ketika dia pulang kampung, Ibunya sudah tidak berada di rumah. Selama dia berada di rumah, dia terus mengenang masa-masa kecilnya bersama ibunya. Film ini memiliki alur yang cenderung lambat, namun banyak sekali inspirasi yang diperoleh.

Berikut adalah beberapa inspirasi dari film Little Forest versi Bayu :

  1. Memasak sendiri? Kenapa tidak!

Ada banyak sekali adegan memasak di film Little Forest. Mata ini dimanjakan dengan beberapa makanan yang terlihat enak dan juga sederhana, lengkap dengan triknya.

Little Forest

Sumber : Hancinema.net

Setelah berpetualang selama tiga bulan di Sumatera, aku mulai memutuskan untuk berlatih memasak dengan mamiku. Selama perjalananku, aku menemukan banyak teman—cowok—yang bisa memasak sendiri. Masakannya pun bukan yang tergolong mudah, seperti mie atau sekadar telor dadar dkk, tapi yang cukup rumit. Rasanya pun tidak begitu mengecewakan. Salah satunya adalah Bambang, mahasiswa baru UINSU. Dia sudah terbiasa memasak sendiri, sehingga dia bisa menghemat uang sakunya, apalagi jika bahan-bahan masakan ditanggung bersama, sekontrakan misalnya.

Berdasarkan pengalaman menumpang di tempatnya, aku meyakinkan diriku sendiri untuk belajar memasak ketika aku berada di rumah. Film Little Forest ini juga meneguhkan kembali tekadku untuk belajar memasak. Memang benar bahwa proses memasak itu memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan ketika menyantapnya. Alasan itulah yang menyebabkan banyak orang lebih cenderung untuk membeli makanan daripada memasaknya sendiri. Tapi, jika sudah terbiasa memasak dan menikmati prosesnya, maka akan nagih untuk memasak sendiri. Memasak sendiri? Kenapa tidak!

  1. Alam telah menyediakan semuanya untuk kebutuhan manusia
Little Forest

Sumber : Hancinema.net

Hye-won dan ibunya memanfaatkan tumbuhan yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka bercocok tanam, sehingga jarang sekali membeli kebutuhan pokok seperti beras dll. Mereka benar-benar mengandalkan alam untuk melangsungkan hidup.

Aku jadi teringat akan materi pelatihan trainer di Bandung, Pembangunan Berkelanjutan. Saat itu, sub bab yang dibahas adalah pertanian berkelanjutan, yang salah satu jenisnya adalah permakultur. Aku ingin sekali menerapkan sistem tersebut di rumahku kelak, sehingga semua kebutuhan keluargaku bisa terpenuhi dengan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah. Semoga saja aku bisa mewujudkannya sebelum aku mati,

Sama halnya dengan pelatihanku, film Little Forest ini menganjurkan agar manusia bisa memanfaatkan alam dengan baik, namun tidak mengeksploitasinya. Alam telah menyediakan semuanya untuk kebutuhan manusia, maka tak sepantasnya manusia merusak alam.

 

  1. Tidak jadi masalah untuk berkarir di desa

Hye-won bekerja paruh waktu sebagai kasir di Supermarket, sambil menyiapkan ujian guru di Seoul. Eun-sook bekerja di bank, yang terletak di kota yang tak jauh dari desanya. Sedangkan dia ingin sekali pergi jauh dari desanya dan berkarir di kota besar. Terakhir, Jae-ha yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di perusahaan, dan berkebun di desanya. Mereka bertiga mencoba mewujudkan impian masing-masing. Hye-won yang gagal dalam ujian guru menyadari bahwa dia harus banting setir dan menemukan impian yang benar-benar ingin dia raih. Dengan bantuan kedua temannya tersebut, akhirnya dia menemukan hal yang sangat ingin dia wujudkan, tidak di kota, melainkan di desanya.

Sama halnya dengan Hye-won, aku juga pernah bekerja paruh waktu di kota besar, bahkan beberapa kota besar. Aku harus berangkat kerja di pagi hari dan berdesak-desakan di KRL. Belum lagi harus melewati kemacetan dengan menggunakan ojek. Berdasarkan pengalaman betapa kerasnya kerja paruh di kota-kota besar tersebut, aku memutuskan untuk tidak akan berkarir di kota besar. Aku lebih memilih menghabiskan waktuku di daerah-daerah yang relatif sepi dan bekerja dimanapun aku mau.

Little Forest

Sumber : Hancinema.net

Desa tempat Hye-won dkk tinggal di Korea Selatan masih sangat asri. Sawah berhektar-hektar terhampar luas. Ada juga banyak perkebunan. Rumah-rumah masih berjauhan. Tentu saja tidak ada kemacetan. Sungguh tempat idaman untuk tinggal dan menghabiskan waktu tua. Bagaimana dengan Indonesia? Tentu saja Indonesia juga memiliki desa seperti itu, bahkan jauh lebih banyak. Selama petualanganku keliling Sumatera, ada banyak sekali desa-desa yang masih asri, salah duanya adalah desa yang terletak di kabupaten Payakumbuh dan Kerinci. Sama seperti yang di film Little Forest, alamya masih asri, banyak tempat wisata, sawah terhampar luas, dan masih banyak yang lain.

Tidak jadi masalah untuk berkarir di desa, apalagi jika alamnya masih indah dan asri. Tinggal dekat dengan alam membantu manusia untuk lebih menyadari bahwa mereka amat bergantung pada alam. Tidak ada kabut peradaban, sehingga mereka akan menjaga alam agar tetap lestari. Masih mau tinggal dan berkarir di desa? Aku si YES.

 

Itulah sedikit review mengenai film Little Forest dan inspirasi yang kudapatkan. Kalian bisa menontonnya streaming disini . Tinggalkan komentar jika ingin berdiskusi lebih lanjut tentang film ini atau memberikan rekomendasi film untuk kutonton atau kureview. Terima kasih

Writer : Bayu Rakhmatullah

Instagram : @rakhmatullahbayu and @petualanganbayu

 

   

1