KENANGAN TAK TERLUPAKAN DI BANDARA

Pernahkah kalian berlari-lari di Bandara ala-ala film, drama atau semacamnya?

 

Aku pernah. 😐 

Jadi, begini ceritanya. 2 jam sebelum keberangkatan pesawat, aku sudah sampai di Bandara Ngurai Rai bersama Erik Andika. Namun, aku tak langsung masuk gerbang keberangkatan untuk check in, karena ada seseorang yang harus kutunggu. Namanya Faiz Afano. Adik tingkat yang telah bersedia menampungku di kosannya,  sama halnya dengan Erik (mereka berdua satu kos).

1 jam sebelum keberangkatan, Faiz masih belum nongol hidungnya. Dia masih di jalan dan tersesat untuk masuk ke bandara (emang cukup membingungkan sie).

“Mas bay, udah masuk aja dulu. Nanti malah ketinggalan pesawat, ” saran Erik padaku.

Aku masih bersikeras untuk tetap menunggu. Rasanya tak sopan dan tak tahu diri jika aku meninggalkan orang yang telah membantuku tanpa berpamitan secara langsung, meskipun hanya berlangsung sekian detik saja. Aku beranggapan seperti itu. Saat itu, memang aku masih menjadi orang yang baik, polos, nan naif.

30 menit sebelum pesawat lepas landas, aku masih setia menunggu adik tingkatku yang dahulu pernah tinggal bersama selama 2 tahun di asrama pesantren. Dia sudah sampai di Bandara  Ngurah Rai. Dia berjalan menuju gerbang keberangkatan sekarang dari tempat parkir sepeda motor.  5 menit cukup bagiku untuk menyampaikan nasihat dan saran ala-ala kakak laki-laki pada kedua adiknya agar mereka berdua bisa hidup bahagia sebagai mahasiswa. Tidak lupa juga kita bertiga mengabadikan momen perpisahan tersebut tepat di depan pintu masuk keberangkatan.

20 menit sebelum pesawat lepas landas, aku langsung berlari setelah mengucapkan kata perpisahan pada mereka berdua.

 “Check in, check in, check in. Itu dia.”

“Yes, tidak ada antrian” batinku (menurut lo, siapa juga yang baru check in 20 menit sebelum keberangkatan, bahkan kurang.)

“Maaf mas, sudah tidak bisa check in,” kata sie petugas perempuan yang menjaga.

 

“Nani (apa dalam bahasa Jepang/ekspresi kaget)?!” 😯 

“Mbak, plis dong. Aku udah gak punya duit lagi buat pesan tiket pesawat lagi,” bujukku sambil memasang wajah yang amat memelas.

Petugas perempuan tersebut berpikir sejenak, lalu menatapku tajam-tajam.

“Tapi, udah gak bisa pakai bagasi lagi ya mas.”

“Iya, iya, gpp mbak.”

“Lain kali jangan mepet2 gini lagi ya mas.”

“Siap mbak!”

 

Aku bersiap untuk lari kembali. Kurang 15 menit lagi.

Aku berlari menuju gate tempat pesawat menunguku. Gate? Mbak tadi tidak memberitahuku tentang gate dan aku sendiri lupa menanyakannya. Waktuku tidak cukup jika aku harus kembali lagi ke pos check in tadi (terus aku kudu ottoke? 😯 😐 ). Instingku tiba-tiba mengatakan bahwa aku harus ke gate tersebut (aku lupa gate berapa).

 

10 menit lagi. Jantungku berdetak sangat jauh lebih kencang dari biasanya. Aku sudah lelah berlari terus tanpa berhenti. Aku juga lupa bahwa bandara ini termasuk salah satu bandara terbesar di Indonesia. Instingku benar, aku sudah berada di jalan yang sesuai. Tapi, masalah lain menghadang. Ada pos untuk memeriksa barang bawaan dan itu antrinya panjang banget (Nani, sekali lagi). Tidak akan cukup jika aku mengantri begitu saja. Kuputuskan untuk menerobos antrian sambil mengucapkan maaf. Penumpang dengan tujuan yang lain tidak masalah akan hal tersebut. Akhirnya aku sampai pada barisan pertama. Aku rasa 5 menit cukup bagiku untuk sampai ke pesawat setelah ini. Aku pun lega.

 

“Tit, tit, tit.”

“Nani, bunyi apa itu?”

“Mas bawa pisau ya?”

“Astaga, aku lupa. Biasanya tidak akan masalah jika tasku kumasukkan bagasi seperti biasa,” batinku.

“Pisaunya saya sita ya mas.”

“Jangan pak!” bujukku sambil mengeluarkan jurus jituku sekali lagi, muka memelas.

“Tidak boleh mas.”

Kali ini jurusku tidak mempan, apalagi pada seorang laki-laki. Tapi, aku tidak menyerah.

 “Saya tidak akan macem-macem pak. Saya tidak akan membunuh orang kok di pesawat nanti.” (sumpah ini bloon banget 😕 )

“Ini sudah peraturan mas. Jadi saya sita ya.”

 

Waktu sudah semakin dekat. Aku harus merelakan pisau pemberian papiku. Hidupku akan terancam dari sekarang. Aku akan menjadi sosok yang rentan dengan tidak adanya pisauku, karena aku akan selalu membawa pisau tersebut ketika bepergian jauh.

Aku sudah mengikhlaskannya. Aku menjadi penumpang terakhir yang masuk pesawat. Seorang pramugariku menunggu kedatanganku layaknya drama Korea On The Way to The Airport, saat Choi Soo-Ah menunggu kedatangan penumpang terakhir, yaitu Seo Doh Woo. Aku duduk di kursi paling depan. Tepat setelah aku duduk, pesawat pun berangkat.

Aku tidak menyangka aku bisa melalui ini semua dengan berbagai drama yang ada. Ini seperti mission imposibble bagiku. Aku berlarian di salah satu bandara terbesar di Indonesia tanpa berhenti, sedangkan ujian lari di ITB saja aku berhenti mulu. Sungguh keajaiban bagiku. Kekuatan agar aku tidak membeli tiket lagi mengalahkan semua drama yang ada. Entah apa yang terjadi jika aku ketinggalan pesawat. Akan kah aku menyalahkan Faiz yang telah menyebabkan ini semua? Atau aku bisa menjadi sosok yang arif seperti Kak Fatma yang mampu mengatakan, “Aku tidak akan marah padamu Bayu, jika kamu menyebabkan aku ketinggalan pesawat sekalipun.” Entahlah, beruntung aku tidak ketinggalan.

Aku menenangkan diri sambil melihat pemandangan laut dari jendela pesawat. Aku mengatur nafas yang tidak karuan ini. Ah Bali, kau memberikan kenangan yang tak terlupakan bagiku. Cukup bangga rasanya merasakan adrenalin mengejar jadwal keberangkatan pesawat layaknya di film-film atau drama. Wkwkwk

 

Writer : Bayu Rakhmatullah

Note : cerita ini juga sebagai bentuk pemenuhan janji untuk bercerita kepada mereka berdua (read : Erik dan Faiz) tentang apa yang kualami di Bandara. Juga untuk Kak Fatma. Ini untuk kalian.

 

2