Kamu Tidak Berhutang Apapun Pada Orang Tuamu

By | October 28, 2022

“Aku sudah berkorban banyak hal untukmu!”

Pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang tuamu? Atau kalimat ini.

“Ketika kamu kecil dulu, aku menyusuimu hingga tengah malam, aku menggendongmu sampai punggungku mati rasa, aku bla bla bla …”

Cerita itu diulang-ulang oleh orang tuamu seakan-akan kamu orang yang pikun. Kalimat itu muncul ketika kamu tidak mematuhi perintahnya, tidak mau didekte, tidak sesuai keinginannya, agar kemudian muncul perasaan bersalah kerena tidak menuruti kemauannya. Memang jarang ada orang tua yang mengatakan secara gamblang pada anaknya bahwa dia/mereka telah berhutang budi padanya. Tapi, apakah sebenarnya anak itu berhutang pada orang tuanya?

Tidak!!! Anak tidak berhutang apapun pada orang tuanya. Sebaliknya, orang tualah yang berhutang pada anaknya.

Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan

Klise! Tapi memang begitulah kenyataannya. Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Sebaliknya, orang tualah yang secara sadar “menghadirkan” anak ke dunia. Mereka bertanggung jawab karena telah melahirkan anak ke dunia. Namun, seiring bertambahnya waktu terkadang mereka melupakan fakta tersebut.

Berawal dari,

”Aku tidak ingin anakku menderita sepertiku. Aku ingin anakku memiliki hidup yang lebih baik dari diriku.”

kemudian entah karena alasan apa menjadi,

“Aku sudah banyak berkorban untukmu, sudah saatnya kamu membalas budi.“

Orang tualah yang berhutang pada anaknya. Mereka berhutang akan kasih sayang, pemenuhan gizi, pendidikan dan segala sesuatu yang dibutuhkan anaknya agar tumbuh sehat dan baik. Itu bukanlah pengorbanan, melainkan kewajiban. Atau bahasa kasarnya adalah resiko menjadi orang tua.

Sumber : Unsplash

Sebenarnya tulisan ini tidak relate dengan kehidupan pribadiku. Aku dibebaskan sedari kecil. Aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan. Orang tuaku tidak ikut campur dan tidak mendikte kehidupan pribadiku. Namun, aku sering menjumpai teman-temanku yang seumuran masih didekte oleh orang tuanya. Entah itu mengenai karir, jodoh dan lain sebagainya. Mereka mengaku tidak nyaman terlalu didekte oleh orang tuanya. Kebebasan mereka terenggut. Namun, kata “durhaka” membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan orang tua.

Baca juga :   Meminta Maaf

Aneh rasanya ketika anak yang berusia 20an atau 30 ke atas yang masih dikontrol oleh orang tuanya. Mereka sudah memiliki KTP, yang berarti mereka sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidup sendiri. Mungkin masih dimaklumi jika kontrol tersebut dilakukan pada anak yang masih di bawah umur.

Tidak, tidak, tidak! Aku ralat pernyataanku. Perasaan anak kecil itu valid. Pendapat mereka juga penting. Tak sepatutnya memaksakan kehendak orang tua, dengan mengabaikan pendapat dan perasaan anak.

Orang tua tidak selalu tahu yang terbaik untuk anaknya

“Kamu jadi PNS aja, biar masa tuamu terjamin.”

“Kamu harus menikah sebelum berusia 25 tahun. Amit-amit kalo di usia 30an kamu belum juga menikah, alamat jadi perawan tua. Tidak ada yang mau denganmu nantinya.”

“Kamu harus menikah/memiliki anak, agar kamu tidak kesepian di hari tua nanti.”

Ya, memang orang tua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, tapi mereka tidak selalu tahu yang terbaik untuk anaknya.

Orang tua menyatakan bahwa mereka lebih tahu, lebih berpengalaman, telah merasakan asam-garam kehidupan, oleh karena itu sebaiknya anak menuruti mereka. Tapi, dunia sudah jauh berubah. Bisa jadi pengalaman orang tua tempo dulu sudah tidak relevan lagi di masa kini.

Selain itu, ini adalah hidupmu. Kamu yang menjalani kisah hidupmu, bukan orang lain. Bukan juga orang tuamu.

Anak tidak berhutang apapun pada orang tuanya.

Sumber : Unsplash

Lakukan apapun yang membuat kamu bahagia!

Aku yakin masih banyak yang ragu dan setengah hati ketika membaca tulisan ini.

“Ini adalah caraku membalas budi kedua orang tuaku, sekalipun aku tidak menikmati melakukannya. Ini adalah bentuk baktiku pada orang tua.”

Balasan terbaik bagi orang yang berjasa pada kita adalah dengan menjadi bahagia. Kamu harus bahagia terlebih dahulu. SEHARUSNYA, ketika kamu bahagia, orang tua juga akan bahagia nantinya. Selain itu, kukatakan lagi bahwa sudah semestinya orang tua memberikan kasih sayang tak bersyarat (unconditional love) pada anaknya. Kamu tidak berhutang budi apapun pada orang tuamu.

Baca juga :   Berhenti Membandingkan Hidupmu dengan Hidup Orang Lain!!!

Membangun batasan menjadi solusi agar orang lain tidak terlalu ikut campur pada kehidupan pribadi seseorang. Menerapkan batasan merupakan langkah yang lumrah (malah dianjurkan) dilakukan seseorang, termasuk pada orang tua/keluarga sekalipun. Terkadang memang ada beberapa hal yang hanya masuk ranah pribadi, orang lain tidak boleh masuk ke dalamnya. Terapkan batasan itu, dan kamu tidak perlu merasa bersalah karena menerapkannya!

Sumber : Unsplash

The older I get the more that I see

My parents aren’t heroes, they’re just like me

And loving is hard, it don’t always work

You just try your best not to get hurt

I used to be mad but now I know

Sometimes it’s better to let someone go

It just hadn’t hit me yet

The older I get

Older – Sasha Sloan

Menjadi orang tua sama sekali tidak mudah, oleh karena itu tidak semua orang bisa menjadi orang tua yang baik. Mencintai tanpa syarat juga sulit. Butuh energi besar untuk melakukannya. Tapi, seorang anak juga merupakan manusia seutuhnya. Mereka membutuhkan kebebasan. Pendapat dan perasaan mereka valid. Pilihan hidup mereka sudah sepatutnya dihargai, sekalipun tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Bagi para orang tua, ingatlah kembali bahwa kalian yang ”menghendaki” anak lahir di dunia ini. Mereka tidak berhutang apapun pada kalian.

Untuk kamu, lakukan apapun yang kamu inginkan. Kamu tidak berhutang apapun pada orang tuamu.

 

Writer  : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi