Happy Birthday My Dearest Best Friend

By | March 7, 2022

7 Maret 2022. Hari ini tepat usianya memasuki 27 tahun. Kurang 3 tahun lagi kita menginjak kepala 3, saat yang dinanti-nanti oleh kita berdua. Aku dan dia begitu penasaran apa jadinya ketika berusia 30 tahun …

Di hari ulang tahunnya ini, aku ingin bernostalgia.

Pertemuan pertama

persahabatan

Osjur (Ospek Jurusan) menjadi momen pertama kali kita bertemu. Sebenarnya bukan pertemuan yang benar-benar pertama memang, tapi ini adalah pertemuan yang menjadi cikal bakal persahabatan kita berdua.

Saat itu ada tugas pertama Osjur, yaitu membuat buku biru, yang berisi profil teman satu angkatan. Tiba saatnya aku berkenalan dengannya. Salah satu yang ada di profil yaitu kesamaan satu sama lain.

“Suka drama Korea?”

“Iya, kamu juga?”

“Iya. Udah nonton apa aja?”

Berawal dari kecintaan terhadap drama Korea, kita berdua terus menjalin persahabatan hingga sekarang. Drama Korea menyatukan kita berdua, seperti ada koneksi diantara berdua, dan juga seakan-akan bertemu dengan teman lama yang amat dirindukan.

Aku harus berterima kasih kepada guru Bahasa Inggris SMAku, Mom Yeni, yang telah mengenalkanku pada drama Korea dan Osjur—walakin isinya agitasi-agitasi gak jelas—yang telah mempertemukan kita berdua. Terima kasih!

Masa-masa kuliah dipenuhi dengan nongkrong, makan-makan, dan jalan-jalan bersama. Dia juga memiliki hobi membuat kejutan untuk orang lain, hingga aku pun ikut serta dalam merayakan kejutan-kejutan tersebut.

persahabatan

persahabatan

Tidak hanya merencanakan berbagai kejutan, kita berdua juga merencanakan hal remeh-temeh, seperti ketika akan chat di grup angkatan.

“Nanti aku chat gini, kamu nanti tanggepin ya.”

“Oke!”

Biar setidaknya ada yang menanggapi, tidak dikacangi. Mengingat masa-masa itu membuatku tertawa.

Persahabatan yang dewasa

Kini, persahabatan kita berdua memasuki tahun ke-8. Persahabatan yang polos berubah menjadi persahabatan yang dewasa. Kejamnya dunia, kerasnya kehidupan, quarter life crisis, dan mulai mengenal tentang depresi membuat kita berdua menjadi pribadi yang dewasa, begitu juga dengan persahabatan kita berdua.

Baca juga :   SAHABAT SMA PERTAMAKU

Sedari awal kita berdua bukanlah tipe sahabat yang setiap hari harus hangout bersama. Kita berdua memiliki kesibukan masing-masing. Selain itu, kita berdua sama-sama menyukai me time.

Puluhan ribu mil yang memisahkan tidak jadi masalah besar bagi kita berdua untuk tetap mempertahankan persahabatan ini. Kita juga terbiasa dengan komunikasi yang hanya sesekali dalam sebulan. Bukan jadi masalah jika salah seorang menghubungi jika ada perkara penting saja, dengan mengetahui fakta bahwa kita berdua akan selalu berusaha untuk “ada” dan membantu.

Fakta bahwa setidaknya ada satu orang di dunia ini yang mendukung kita membuat aku dan dia percaya dan mampu melewati tantangan yang ada. Dukungan dari seorang sahabat sudah cukup bagi kita berdua.

Aku tidak ingat pernah bertengkar dengannya. Kita cenderung sefrekuensi. Selain itu, kita cukup dewasa bahwa perbedaan pendapat itu merupakan hal biasa. Kita juga cukup berpikiran terbuka untuk menerima perbedaan satu sama lain.

Tidak ada yang tabu diantara kita berdua. Kita bisa mengobrol topik apapun, bahkan yang paling dark sekalipun. Mengobrol, curhat, dan berdiskusi dengannya merupakan healing tersendiri bagiku. Mood meningkat setelahnya. Ketika aku sedih, aku senang kemudian.

Aku tidak perlu menjelaskan banyak hal padanya, mengenai berbagai alasan dari pilihan hidupku. Selain karena memang dia pintar, dia juga memahamiku dengan baik. Kita setara, perbedaan pengalamannya tidak jomplang. Seringkali (tanpa disengaja) kita mengalami pengalaman yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan. Aneh, tapi begitulah uniknya hubungan kita berdua.

persahabatan

Awal-awal pertemanan dengannya, aku mendapati bahwa dia merupakan orang yang berpikiran bebas (free thinker), tapi tidak dengan jiwanya. Jiwanya tak sebebas pikirannya, seperti ada halangan yang membatasinya. Namun, seiring bertambahnya usia, jiwanya semakin bebas (free spirit). Ia berhasil mengatasi halangan-halangan yang ada. Aku menjadi orang pertama yang bahasia atas perkembangannya menjadi orang yang berjiwa bebas …

Baca juga :   PENIKMAT FILM

30 tahun

Aku dan dia sama-sama menanti usia 30 tahun. Kita penasaran apa jadinya ketika menginjak usia 30 tahun nanti? Kita juga berencana merayakan ulang tahun (yang berdekatan) bersama 3 tahun nanti.

“Things will be fine when you turn 30.” — Be Melodramatic


Kini, ia menjadi sahabat satu-satunya yang kumiliki. Seringkali ia juga menjadi satu-satunya orang yang masih berhubungan denganku di kala aku tidak ingin berhubungan dengan orang lain. Tak jarang pula ia menjadi satu-satunya orang yang bisa kuajak cerita, membagikan permasalahan pelik yang kualami. Ia merupakan pendengar yang baik, dan juga tidak menghakimi.

Aku masih ingat dengan jelas hari “itu”. Hari di mana ia memberikan buku yang ditulisnya kepadaku, berjudul “Buku Harapan.” Buku yang telah mengubah hidupku, bahkan menjadi tujuan hidupku. Aku benar-benar berhutang banyak hal padanya.

 “Can a person be another person’s miracle?”

Yes, she can!

Semoga kita berdua diberikan rezeki berlimbah, kemapanan, serta senantiasa sehat. Hingga bertemu kembali di Austria. Happy birthday my dearest best friend, Stephanie.

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi