Dimanfaatkan

By | September 12, 2021
dimanfaatkan

Sumber : Pixabay

Beberapa bulan belakangan ini, aku merasa bahwa aku telah dimanfaatkan oleh seseorang. Sejujurnya aku tidak merasakan seperti demikian, hingga 2 minggu yang lalu aku membaca sebuah artikel yang menyadarkanku bahwa ternyata aku sedang dimanfaatkan.

Oke, aku akan menyebut orang yang memanfaatkanku itu dengan “doi”. Belakangan, doi seringkali menghubungiku, entah itu untuk meminta tolong, menanyakan ini-itu, bahkan ‘memaksaku’ menjadi pendengar tanpa izin terlebih dahulu. Sejujurnya, aku lebih nyaman berkomunikasi tatap muka dibandingkan online jika membutuhkan komunikasi yang intens dan waktu yang lama. Komunikasi online, terlebih melalui pesan teks rawan terhadap salah pengertian. Aku juga tidak suka menatap gawai terlalu lama, sambil mengetik pesan yang panjang. Tapi, aku terus mengiyakan permintaan doi terlepas dari preferensiku.

Hingga lama-kelamaan, jarak waktu balasan antara aku dan doi bertambah lama. Ketika ada pesan masuk darinya, aku akan berusaha membalas secepat mungkin. Padahal aku bukan orang yang fast response. Aku juga termasuk golongan orang yang mematikan notif baca. Tapi, balasan darinya menjadi semakin lama, berjam-jam, bahkan bisa berhari-hari.

Sebelumnya, aku tidak pernah sepicik ini, memikirkan betapa lamanya orang lain membalas pesanku. Aku tidak terlalu mempermasalahkan orang yang slow response. Aku paham bahwa seseorang memiliki kesibukan masing-masing dan tidak selalu memegang gawai. Toh aku juga orang yang slow response, mematikan notif baca pula (tidak begitu penasaran pesanku sudah dibaca atau tidak).

Tapi, tunggu! Ini doi kan yang lebih perlu, yang bertanya dan membutuhkan jawaban? Tapi, lagi-lagi aku terus meladeni doi, membantu/menjawab dengan sepenuh hati, tanpa mengurangi kecepatanku dalam membalas.

Yup, benar sekali! Aku sedang menyukai doi.

Doi seperti gambaran orang yang menghubungi jika dia ada perlu saja. Aku tidak masalah dengan dimanfaatkan, atau dihubungi ketika dia/mereka lagi butuh sesuatu, selama ketika aku lagi butuh, mereka juga bersedia untuk dihubungi. Atau jika pun ternyata aku sepenuhnya dimanfaatkan, hanya satu sisi, aku secara sadar dengan senang hati membantu dia/mereka. Namun, hal tersebut langka. Butuh hubungan spesial, misal persahabatan, hingga aku mau dengan senang hati dimanfaatkan. Bahkan sahabatku sendiri tidak begitu.

Baca juga :   Depresi Pertama

Beginikah nasib suka sepihak (aku tidak mau menyebutnya cinta)? Hanya karena aku menyukai doi, dia dengan semena-mena memanfaatku? Hingga aku tersadar, ah ternyata aku tidak ada bedanya dengan orang-orang yang bertahan dalam hubungan toksik, yang seringkali aku sebut dungu tsb.

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi