Diam Itu Emas?

By | June 5, 2023

“You don’t have to say anything. Always remember that. Many’s the person missed the opportunity to say nothing and lost much because of it.” – The Quiet Girl

Itu adalah quote dari film The Quiet Girl (2022), salah satu nominasi Best International Feature Film di Oscar. Pada suatu malam, di pantai, ditemani dengan rembulan dan suara deburan ombak, seorang paman dan keponakannya duduk sambil bercerita. Hingga kemudian pamannya menasihati keponakannya yang cenderung pendiam dengan kalimat tsb. Bahwa tak apa-apa untuk diam saja. Kita boleh dan berhak untuk tidak mengatakan/menjelaskan apapun pada orang lain.

Itu adalah salah satu adegan yang menyentuh di film The Quiet Girl. Betapa beruntungnya anak kecil itu memperoleh nasihat yang amat berharga. Filmnya keren parah dan heartwarming sekali. Kalian juga harus menontonnya.

diam itu emas

Sumber : Unsplash

Kembali lagi ke topik. “Diam itu emas.” Kita seringkali mendengarkan/melihat quote tsb, bahkan sedari SD, yang biasanya muncul di bagian bawah buku tulis. Dewasa ini aku bisa menghayati ungkapan tsb lebih dalam lagi.

Semakin bertambahnya usia, aku menyadari bahwa aku lebih pendiam. Aku cenderung tidak banyak bicara. Bicara hanya seperlunya saja. Padahal dulu ketika anak-anak/remaja aku termasuk yang “berisik”. Segala sesuatu dijawab, komentar dibalas, dijelaskan panjang lebar, dan hobi berdebat, yang terkadang hal itu malah menimbulkan konflik.

Kini tidak lagi. Ketika nafsu/keinginanku untuk berbicara, menjawab, membalas, berdebat begitu membuncah, aku akan memberi jeda sejenak, sambil bertanya pada diri sendiri. Apakah ini perlu dijawab? Perlukah aku berbicara? Lebih baik mana diam atau bicara saja? Apakah aku akan menyesal jika aku berbicara nantinya? Aku juga mengingat-ingat kembali pengalaman-pengalamanku dulu bahwa seringkali aku menyesali bicaraku, tapi tidak dengan diamku.

Baca juga :   Teman Curhat

Aku juga menyadari bahwa kini aku cenderung tidak suka dan kesulitan untuk basa-basi.

Beberapa hari yang lalu aku berjumpa (secara kebetulan) dengan seorang teman yang sudah lama sekali tak kutemui. Aku seringkali berandai-andai, bagaimana jika tiba-tiba bertemu seorang teman lama dalam perjalanan? Apa yang akan kulakukan? Apa yang akan kukatakan? Apa reaksiku?

Ternyata berlangsung B aja, tidak sesuai yang ada di pikiranku. Aku tersenyum, dia pun balik tersenyum. Kemudian berjabat tangan. Dia memanggil namaku, “Roma,” kemudian bertanya, “sehat?”. Aku mengangguk dan tersenyum kembali.

Beberapa detik kemudian kita berpisah. Tak ada kata-kata tambahan terucap dari mulutku. Entah, mulutku seperti sulit sekali mengatakan sesuatu.

Harus kuakui bahwa salah satu “penuaan” versiku adalah aku makin tidak mahir berbasa-basi, sekalipun hanya menanyakan kabar. Aku juga bukan tipe yang berseloroh, “tambah gendutan/kurusan, ya?”. Apalagi menanyakan kapan kapan kapan, yang sifatnya privasi. Aku sama sekali bukan tipe seperti itu.

Jadilah pertemuan singkat itu hanya bertukar senyuman. Sambil di dalam hati aku mendoakannya agar ia senantiasa bahagia …

Sumber : Unsplash

Aku suka dengan versiku yang lebih pendiam seperti sekarang. Hidupku jadi minim konflik dengan orang lain. Tenang dan damai. Ingatlah bahwa kamu tidak harus mengatakan/menjelaskan apapun pada orang lain!

 

Writer : Bayu Rakhmatullah

Mari Berdiskusi