Berkorban? Aku Sih NO!

By | March 10, 2020

One of the things that people hate among the comments their parents often make is, “I gave up and sacrificed everything for you.”

Pernah mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut kedua orang tuamu?

Aku pernah, tapi bukan pada keadaan mereka terpojok, kemudian mengucapkannya dengan lantang. Bukan. Mereka mengucapkannya dengan pelan, tulus, dan sungguh-sungguh, agar nantinya aku tidak perlu berkorban seperti mereka. Tentu saja mereka tidak mengatakan secara terang-terangan agar aku tidak perlu berkorban, aku yang mengartikannya sendiri.


“Jangan jadi buruh seperti papimu ini!” ucap papiku ketika akan berangkat kerja usai salat subuh. Itu adalah pesan yang sering kali dia ucapkan pada anak-anaknya. Bukan hanya ketika akan berangkat kerja, papiku juga sering menyampaikan hal tersebut ketika diskusi keluarga, makan, dan waktu yang lainnya.

“Arasso arasso,” jawabku. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami makna dari pesan tersebut. Namun, seiring bertambah dewasanya diriku, aku paham makna pesan tersebut.

Saat ini, aku manyadari bahwa papiku tidak menyukai sepenuh hati pada pekerjaannya. Tapi ia bisa apa? Berhenti bekerja? Dia punya keluarga yang harus ditanggungnya. Dia berkorban demi keluarganya, termasuk aku, setidaknya sampai ia pensiun nanti. Jarak rumah ke kantornya terbilang cukup jauh, yaitu 67 km. Ketika mendapatkan shift pagi, dia harus berangkat usai salat subuh. Mandi pukul 04.00—aku masih enak selimutan.

Jangan jadi buruh seperti papimu ini = bekerja selain buruh. Saat itu, aku pikir itulah makna dari nasihat papiku. Ternyata bukan itu. Makna sebenarnya dari pesan tersebut adalah bekerjalah sesuai keinginanmu/yang kamu suka.


berkorban

Sumber : Pixabay

Mereka telah mengorbankan banyak hal, mimpi, hobi dan segala sesuatu yang ingin mereka wujudkan di masa mudanya demi anak-anak mereka. Apakah aku lantas berterima kasih, seraya bersyukur atas pengorbanan yang telah mereka lakukan? Tentu saja tidak. Aku sedih terlebih dahulu, mereka telah mengorbankan mimpi-mimpi mereka karena aku (dan kakak-kakakku).

Baca juga :   Meminta Maaf

Aku tidak akan menyalahkan keputusan mereka. Mereka telah melakukan yang terbaik, yang mereka bisa. Demi aku. Kini giliran aku membalas pengorbanan mereka, dengan cara yang terbaik.

Aku tidak akan berkorban (lagi). Aku akan memutus rantai pengorbanan ini. Bukankah balasan terbaik kepada orang-orang yang telah berbuat baik/mengorbankan banyak hal kepada kita adalah menjadi bahagia? Mereka pasti juga bahagia dan bangga, karena kita juga bahagia, setidaknya pengorbanan mereka tidak sia-sia.

Jangan jadi buruh seperti papimu ini!

Aku akan menuruti nasihat papiku tersebut, termasuk makna yang tersirat di dalamnya. Sama halnya dengan keinginan semua orang tua kepada anak-anaknya, agar mereka memiliki hidup yang lebih baik. Harapan semua orang tua begitu tulus, walakin ada yang menyerah terhadap keadaan, dan pada akhirnya menuntut anak-anaknya. Beruntungnya kedua orang tuaku masih memegang teguh yang mereka ucapkan sampai sekarang.

Terima kasih pada mami dan papiku, yang membebaskanku untuk hidup dengan caraku sendiri. Terima kasih, telah memberikan kebebasan padaku untuk mewujudkan mimpi, mimpiku sendiri. Sebagai balasannya, aku tidak akan membalas pengorbanan kalian dengan berkorban juga. Aku akan hidup sesuai dengan yang kuinginkan, tanpa mengorbankan mimpi dan hal-hal yang kusuka.

berkorban

Sumber : Pixabay

Terdengar cukup egois bukan? Memang. Tapi inilah caranya memutus rantai pengorbanan. Jangan pikir bahwa berlaku egois merupakan hal mudah. Sama sekali tidak. Seperti halnya menyalahi kodrat manusia yang cenderung berkorban untuk yang lain. Dibutuhkan keberanian serta mental yang kuat untuk menjadi egois.


Kepada anakku—nantinya : Maafkan papimu. Oh, aku tidak akan meminta maaf. Papimu tidak akan menyerah dan mengorbankan mimpi dan segala sesuatu yang aku suka, hanya demi kamu. Tidak akan. Papi juga akan menjamin bahwa aku tidak akan mengucapkan, “Aku telah menyerah dan mengorbankan segalanya demi kamu” kepadamu nantinya. Kamu pun juga harus seperti itu.

Baca juga :   TENTANG BAYU RAKHMATULLAH

 

Writer : Bayu Rakhmatullah

5 thoughts on “Berkorban? Aku Sih NO!

  1. Nuel Lubis

    Nice writing.

    Btw, kadang suka mikir, apalagi abis baca tulisan kamu ini, apakah masih ada orang yang sungguh mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati walau itu terlihat sepele di mata orang lain (ambil contoh: tukang becak atau OB)?

    Soalnya aku suka melihat ada beberapa orang yang puluhan orang yang menggeluti profesi sama bertahun-tahun. Itu karena cinta atau keterpaksaan?

    Btw, maaf kalo terkesan agak gak enak. 😐

    Reply
    1. Bayu Rakhmatullah Post author

      Perkara “mencintai” hanya dia dan Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti, benar jika seseorang menggeluti profesi yang sama selama bertahun-tahun ada dua alasannya. Karena cinta atau keterpaksaan.

      Walakin jika kasusnya pekerjaan yang “sepele” kebanyakan alasan untuk bertahan adalah keterpaksaan.

      Tapi, who knows?

      Reply
  2. Kartika

    Aku sepakat sih soal ini. Mungkin bukan masalah orang tua ke anaknya saja ya. Tapi ini masalah kebanyakan orang. Yang bisanya cuma mengeluh tapi gak melakukan apa2 untuk merubahnya.

    Dan aku gak mau jadi salah satu di antara orang2 itu. Aku sekarang sedang menjalani impianku menjadi penulis penuh waktu. Banyak tantangan, cibiran, tapi bodo amat lah. Aku sudah lelah menyenangkan semua orang, kecuali diriku sendiri. Semangat!! *lah jadi curheart yak 😅😅

    Reply
    1. Bayu Rakhmatullah Post author

      Benar sekali. Sikap “bodoh amat” sangat dibutuhkan untuk mewujudkan impian. Semangat mewujudkan impian, Kak!!

      Fighting!!! 👊🏼👊🏼💪💪

      Reply

Mari Berdiskusi