BERKAT TRAVELING

Traveling telah menjadi bagian dari hidupku. Ia telah menjadi motivasi, target, tujuan, karir, dan impian dalam kehidupanku. Ia juga telah menjadi gaya hidup yang senantiasa aku jaga.

“Disadari atau tidak, setiap orang—siapa pun dia—pasti menemukan rasa bahagia saat terpapar pada suatu keindahan alam.”

Begitulah ungkapan di salah satu opini di Koran Kompas. Benar sekali, aku pun juga cenderung merasa bahagia ketika terpapar keindahan alam. Selain itu, ketika aku dekat dengan alam, aku menjadi relaks. Pikiranku menjadi tenang. Aku pun terdorong untuk melakukan berbagai hal positif terhadap diri sendiri, seperti bersyukur, merenung dan instropeksi. Alam mendorongku untuk merefleksikan banyak hal pada diriku sendiriku.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuanku traveling adalah untuk menikmati keindahan alam ini. Namun, seringkali aku memperoleh “hal lain” selama perjalananku, yang tak kalah dengan keindahan alam itu sendiri. Aku bertemu dengan orang-orang baru, yang membuat pikiranku semakin terbuka akan dunia ini. Mereka memiliki hati yang tulus dan baik, yang keindahannya tak kalah dengan alam. Hal tersebut membuktikan bahwa masih banyak orang baik di dunia ini.

Traveling telah mengubah banyak kehidupanku. Ia telah menjadi salah satu hal yang paling berpengaruh pada hidupku, selain keluarga, sahabat, film, buku dkk. Ada banyak sekali manfaat traveling yang telah kuperoleh. Berikut adalah tiga hal yang paling kurasakan berkat traveling :

  1. Semakin berani

Aku semakin berani. Inilah perubahan yang paling kusadari berkat traveling. Traveling membuatku semakin berani, apalagi ketika aku melakukannya dengan solo traveling. Semakin sering aku traveling, ketakutan dalam diriku semakin berkurang, apapun bentuk ketakutannya, mulai dari ketakutan akan tempat baru dll.

 

manfaat traveling

Koleksi pribadi : @rakhmatullahbayu

September 2018, aku memulai perjalananku keliling Pulau Sumatera selama tiga bulan, mulai dari Aceh sampai Bangka Belitung. Dari perjalanan keliling Sumatera tersebut, ada satu perjalanan yang paling berani menurutku, yaitu perjalanan menuju Danau Kaco, Jambi. Aku tidak menyadari betapa nekat dan beraninya diriku sampai aku turun dari Danau Kaco—Danau Kaco dicapai dengan pendakian—dan memperoleh kesan terkejut dan terheran-heran dari orang-orang yang kutemui selama perjalanan aku turun.

“Sendirian. Gak takut?” kata sepasang suami istri yang kebetulan naik untuk berkebun.

“Seriusan menginap di tengah hutan sendirian? Gak takut?” kata seorang bapak yang memberikan tumpangan menginap selama satu malam setelah aku turun.

Sebelum aku mulai pendakian, ada banyak pula warga Lempur yang heran akan perjalananku.

“Mana temannya?”

“Naik sendiri?”

“Sesuatu yang anehkah melihat seseorang yang melakukan solo traveling” pikirku.

Aneh, sampai-sampai sebelum aku mendaki aku harus lapor terlebih dahulu ke kepala Desa Lempur, khawatir nantinya terjadi hal yang tidak diinginkan. Ada banyak orang yang tersesat di hutan, bahkan penduduk asli tidak berani menjelajah sendirian, kata salah satu penduduk padaku. Aku tidak menghiraukan omongan penduduk tersebut. Aku tidak ingin perjalananku tertunda atau dibatalkan hanya karena hal tersebut. Aku terus melanjutkan perjalanan, hingga di malam harinya aku mengalami hal-hal yang menyeramkan di tengah hutan sendirian, auman harimau, bunyi langkah seseorang yang mengelilingi tendaku, dan hal-hal mistis yang lain. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang dan mendebarkan bagiku, bahkan aku tidak sadar bagaimana aku bisa tertidur.

Keesokan harinya, aku sangat lega ketika aku berhasil keluar dari hutan tersebut dengan selamat, meskipun memakan waktu yang lebih lama dibandingkan pendakian, yaitu tiga jam lebih. Di hari itu, aku menyadari betapa nekat dan beraninya diriku. Aku memperoleh beberapa fakta mengenai Danau Kaco dari keluarga di Desa Lempur yang telah menumpangi diriku, Danau Kaco merupakan salah satu dari lima danau paling angker di Kerinci—dan Danau Kaco yang paling angker—yang telah menelan beberapa korban pengunjung.

Ketidaktahuan dan sifat acuh tak acuh-ku telah menyelamatkanku. Mereka telah membuatku tidak berpikir dan melakukan hal yang aneh-aneh. Ketika aku mengunjungi danau yang angker lainnya dengan keluarga yang telah memberikan tumpangan padaku, Danau Lingkat, gerak-gerikku menjadi kian terbatas karena aku telah mengetahui sesuatu. Aku tidak berani naik rakit untuk mengelilingi danau tersebut, padahal saat itu aku ingin sekali naik rakit untuk pertama kalinya.

manfaat traveling

Koleksi pribadi : @rakhmatullahbayu

Perjalanan-perjalanan yang mendebarkan nan menyeramkan memberikan tambahan keberanian padaku. Aku semakin dibuat terbiasa. Aku juga tidak kapok melakukan perjalanan seperti itu, bahkan sendirian. Aku masih merasa lebih nyaman melakukan solo traveling. Sampai sekarang, aku masih belum terpikir untuk melakukan perjalanan dengan orang lain untuk perjalanan berikutnya.

  1. Semakin mudah mensyukuri hal kecil

Dari tiga bersaudara, aku yang paling pemilih mengenai makanan. Aku tidak suka makanan laut selain kepiting, dan masih banyak yang tidak kusuka. Ketika di rumah, perihal makanan mamiku menyesuaikan dengan seleraku. Ketika aku suka makanan tertentu, maka kemungkinan besar anggota keluarga yang lain juga tidak masalah.

Namun, sifat pemilihku tidak berlaku selama traveling. Bagaimana bisa aku menyampaikan, “Ibu, boleh dibuatkan makanan yang lain? Aku tidak suka makanan ini. Bla bla bla …” pada seseorang yang telah membantuku selama perjalanan secara cuma-cuma? Aku tidak bisa dan tidak sekurang ajar itu—wkwkwk.

Semakin banyak perjalanan yang telah kulakukan, semakin banyak pula jenis makanan yang kucicipi. Tingkat pemilihku pun berkurang. Aku makan apapun yang tersedia, dengan penuh rasa syukur. Aku menikmati setiap suap makanan, bahkan untuk makanan yang paling sederhana.

manfaat traveling

Koleksi pribadi : @rakhmatullahbayu

Bukan hanya perihal makanan, traveling telah membuatku lebih mudah mensyukuri hal-hal kecil yang lain, seperti tidur. Aku membiasakan diri untuk tidur 6-8 jam setiap harinya. Namun, ketika dalam perjalanan kebiasaan itu lebih sulit untuk diwujudkan. Jam tidurku berkurang dari biasanya, sehingga aku lebih mensyukuri keberadaannya. Sampai saat ini, ketika menjelang tidur perasaanku seakan-akan lebih bahagia. Tidur merupakan momen yang kutunggu-tunggu setiap harinya. Aku menikmati setiap momen tidur lelapku, berapapun jam yang tersedia.

Traveling telah membuatku bersyukur akan hal-hal kecil dalam hidupku. Traveling telah membuatku menikmati setiap momen dengan cara yang berbeda. Aku merasakan kenikmatan layaknya aku sudah lama sekali tidak merasakan kenikmatan tersebut. Terlalu ektrem jika aku bilang layaknya itu adalah hal terakhir—aka mau mati. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa aku menjalani keseharianku dengan sepenuh hati. Aku hidup di hari itu juga, tidak mengkhawatirkan masa depan, juga tidak menggerutu akan masa lalu.

  1. Bertambahnya skill

Selama perjalananku keliling Indonesia, aku bertemu dengan banyak laki-laki yang jago masak, seperti Bambang, Bang Lalu, Kak Ifral, Mas Dede dkk. Aku ingin seperti mereka, jago memasak, bukan sekadar masak mie dan telor. Orang-orang seperti mereka memberikan motivasi padaku agar belajar memasak, sehingga ketika aku berada di rumah, aku belajar memasak dengan mamiku.

Bukan hanya memasak, berkat traveling aku bisa mencuci pakaian dengan mesin cuci. Aku bisa menggunakan mesin cuci untuk pertama kalinya pada umur 23 tahun, berkat Bang Randy, GMBers yang mengajariku ketika aku berkunjung ke rumahnya di Sumatera Selatan. Jika selama ini, aku selalu mengandalkan jasa laundry atau menyerahkannya pada mamiku, sekarang aku bisa mencuci pakaianku sendiri dengan mesin cuci—yeah!

Terkesan sederhana memang—memasak dan mencuci—namun itu adalah prestasi yang luar biasa bagiku—ngapain aja selama ini? Masih banyak juga skill yang bertambah berkat traveling.

Ada banyak sekali manfaat traveling yang telah kudapatkan, yang tak bisa kuceritakan semuanya disini. Kalian pun juga bisa memperoleh manfaat traveling yang berbeda dariku, terlebih jika dilakukan dengan solo traveling. Aku pun setuju dengan ungkapan John F. Kennedy, “Jika ingin berjalan cepat berjalanlah sendirian. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.” Tapi, setidaknya satu kali seumur hidup kalian harus mencoba sensasi solo traveling.

Writer : Bayu Rakhmatullah

0