Berhenti Menggunakan Instagram!

By | December 1, 2021

Pernahkah terlintas di pikiranmu, secara acak dan tiba-tiba, “apa saja yang telah kulakukan hari ini?”, hingga kemudian kamu menyadari bahwa kamu menghabiskan waktu cukup lama untuk memantau media sosial, Instagram misalnya. Kamu menyesal karena tidak melakukan kegiatan yang produktif, malah membuang-buang banyak waktu untuk scrolling Instagram, tapi tak cukup berdaya untuk menghentikan kecanduan pada Instagram.

Banyak artikel yang menyebutkan bahwa Instagram merupakan media sosial paling buruk terhadap kesehatan mental seseorang, toksik. Tidak heran jika uninstall menjadi salah satu solusi yang ampuh. Berikut beberapa kondisi yang cukup meresahkan, yang bisa terjadi padamu jika terlalu banyak menggunakan Instagram :

Bangun tidur, buka Instagram

Hal pertama yang dilakukan setelah bangun tidur adalah membuka Instagram di gawai. Kebiasan tersebut merupakan salah satu tanda bahwa kamu telah kecanduan media sosial. Padahal ada banyak sekali kegiatan yang jauh lebih positif yang bisa dilakukan untuk mengawali hari.

kecanduan instagram

Sumber : Pixabay

Para ahli berpendapat bahwa alangkah baiknya 30 menit pertama setelah bangun tidur untuk tidak menyentuh gawai sama sekali. Mengecek gawai setelah bangun tidur dapat meningkatkan level stres. Mengecek gawai, yang juga dibarengi dengan memantau media sosial juga acapkali menghancurkan mood di pagi hari, akibat mendapati informasi yang tidak diinginkan. Pada akhirnya, suasana hati menjadi kacau yang berakibat buruk pada rutinitas selanjutnya. Begitu seterusnya.

Kegiatan yang dilakukan setelah bangun tidur amat krusial karena mempengaruhi suasana hati secara keseluruhan di hari itu. Alangkah baiknya untuk mengawali hari, lakukan kegiatan yang membuat pikiran dan mood menjadi rileks. Ada banyak sekali pilihan, misal meditasi, membersihkan kamar, menyeduh teh, menulis jurnal dkk. Pun sama halnya ketika menjelang tidur di malam hari, alangkah baiknya menjauhkan diri dari gawai.

Baca juga :   Berahi Digital Antara Aku dan Gawai

Merasa khawatir

kecanduan instagram

Sumber : Pixabay

Sebentar-sebentar cek instagram. Cek instagram lagi. Pernahkah seperti itu? Ketika tidak membuka instagram dalam waktu lama, kamu merasa khawatir. Kamu juga tidak fokus, karena pikiranmu terus terdistraksi, ingin mengecek instagram terus-terusan. Adakah DM yang masuk? Mengecek siapa aja yang telah melihat story atau like post. Ingin terus mengikuti tren yang lagi ramai diikuti banyak orang dkk. Itu yang dinamakan FOMO (Fear of Missing Out). FOMO juga menjadi tanda bahwa kamu terlalu banyak mengonsumsi media sosial.

Insecure

Tanpa kita sadari, terlalu banyak mengonsumsi media sosial dapat menimbulkan kebiasaan membanding-bandingkan. Ketika memantau instagram, alam bawah sadar secara otomatis membandingkan diri dengan orang lain. Foto orang lain yang tampak bagus (belum tentu menampilkan yang sesungguhnya) mampu membuat diri ini merasa kecil, insecure.

“Kenapa aku tidak sebahagia mereka?”

“Kenapa aku tidak sesukses mereka?”

Sadar bahwa instagram telah mengganggu kesehatan mental tak lantas membuat kita berhenti menggunakannya. Candu/senang terhadap gosip atau berdalih akan kebutuhan terhadap informasi yang cepat menghalangi kita untuk tidak menggunakan instagram.

kecanduan instagram

Sumber : Pixabay

“Kecanduan pada gosip/informasi—terlalu banyak menggunakan instagram—membanding-bandingkan dengan orang lain—insecure” seperti menjadi lingkaran setan yang sulit sekali diputus.

Kurangi!

Ketika kamu mengalami salah satu hal di atas, atau bahkan semuanya, maka kamu perlu berhati-hati. Jika memang tidak mampu untuk tidak menggunakannya sama sekali (uninstall), maka kurangi terlebih dahulu. Kurangi penggunaan instagram secara bertahap. Sesekali lakukan juga puasa digital untuk benar-benar menjernihkan pikiran dan jiwa.


Aku sendiri berpikir bahwa berhenti menggunakan instagram merupakan keputusan bijak, walakin aku sendiri masih belum mampu melakukannya. Aku sudah bisa mengontrol penggunaan instagramku dengan baik, yang kini hanya maksimal 20 menit/hari. Aku juga sering melakukan puasa digital, tapi masih belum sanggup untuk menghapus akun instagram secara permanen. Ada perasaan eman (tidak rela), karena aku memiliki banyak foto/kenangan bagus di feed-ku. Aku masih belum mampu memutus kemelekatan ini. Semoga saja suatu saat nanti aku bisa menghapus akun instagramku secara permanen …

Baca juga :   Jeda

Aku pikir ini menjadi keuntungan sendiri bagi orang-orang yang memiliki akun instagram, tapi tidak ada postingan sama sekali (feednya kosong—0). Feed kosong tapi rajin sekali memantau instagram/melihat story orang lain. Ini kesempatanmu. BERHENTI MENGGUNAKAN INSTAGRAM!!!

 

Writer : Bayu Rakhmatullah 

2 thoughts on “Berhenti Menggunakan Instagram!

  1. eka fitriani larasati

    secara pribadi saya setuju dengan opini kakak untuk tidak menggunakan instagram, karena untuk sebagian dari kita bisa bikin cranky, insecure dan lupa waktu. terutama setelah instagram mengunggah fitur baru semirip tiktok, reels. i feel it, hahaha. Terutama saya yang sukap BTS dan update ilustrasi. Sekali stand by bisa lebih dari 30 menit even more! tapi menurut saya, balik lagi ke pribadinya sih. Kalau saya, sempat pernh ada di masa-masa buka IG terus cranky dan insecure. Tapi setelah jadi blogger dan semi-influencer yang jobnya banyak share di instagram, lama-lama saya kebal terhadap ke-insecure-an scroll IG karena tau faktanya sebagian yang tampil di IG yaa….its not a hundred persen true. dan gak semuanya bad. Saya lebih memilih filter akun dan unfollow akun-akun yang menurut saya kelewat bikin saya cranky atau too toxic even if its positive toxic. Atau kalau gak tega karena masih pengen kepo, ya saya hide aja profil dan feednya. its easy, hahaha.
    like i said, balik lagi ke pribadi ya. kalau dirasa terlalu mengganggu ya, puasa atau bahkan berhenti pakai mungkin bisa jadi langkah bijak.

    tapi bagi saya yang kerja pakai IG, maybe gak akan lepas dari platform yang satu ini. selain branding produk jasa juga saya jualan produk barang di disini dan jadi mata pencaharian utama saya dan keluarga.

    btw, salam kenal ka, hehehe

    salam,
    eka

    Reply
    1. Bayu Rakhmatullah Post author

      Benar sekali, kembali ke pribadi masing-masing. Atur-atur aja hingga tidak berlebihan dan berdampak buruk pada kesehatan mental. 👍

      Salam kenal juga kak. 😊😉

      Reply

Mari Berdiskusi