Apa Tujuan Hidupku?

By | December 19, 2022

Apa tujuan hidupku? Seringkali pertanyaan ini muncul ketika berada pada fase quarter life crisis. Pada fase itu, seseorang mengalami berbagai gelojak batin dalam dirinya. Ada yang khawatir akan masa depannya. Ada yang mengalami krisis kepercayaan diri. Ada pula yang kebingungan akan arah hidupnya. Hingga kemudian seseorang akan mulai bertanya, apa tujuan hidupku?

Menemukan mengapa-mu

Banyak pendapat pakar menyatakan bahwa penting sekali untuk menemukan mengapa-mu. Kenapa aku dilahirkan di dunia ini? Ketika seseorang sudah menemukan mengapa-nya, ia tidak akan terombang-ambing lagi. Mengapa-mu bisa juga disebut sebagai tujuan hidup.

Tujuan hidup setiap orang berbeda-beda, bersifat unik. Tujuan hidup bukanlah sesuatu yang diwariskan, atau dicekcoki oleh orang tua/lingkungan sedari kecil. Bukan sekolah-kerja-menikah-punya anak-menua-mati-masuk surga. Bukan itu.

Kamu yang menemukan tujuan hidupmu, dengan mengenal dirimu sendiri.

Siapa aku?

Pertanyaan ini bisa membantumu untuk menemukan mengapa-mu. Siapa aku? Ingin dikenal seperti orang yang bagaimana?

Dalam bukunya berjudul Keajaiban Mimpi, Ace Starry berpendapat bahwa untuk menemukan jawaban dari mengapa-mu, seseorang harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan siapa dan apa. Siapa aku? Apa impianku?

Apa merupakan pertanyaan dasar, ia hanya permukaannya saja, hingga pertanyaan ini cenderung lebih mudah dibandingkan siapa dan mengapa. Apa kesukaanmu? Apa yang tidak kamu sukai? Apa hobimu? Apa kekurangan dan kelebihanmu? Apa keahlianmu? Apa passionmu? Apa cita-citamu? Apa impianmu? Pertanyaan-pertanyaan itu (apa) cenderung mudah, bisa dijawab dalam waktu singkat, namun ironisnya adalah banyak yang kesulitan/kebingungan menjawab pertanyaan macam itu, saking mereka tidak mengenal diri mereka sendiri dengan baik.

passion

Sumber : Unsplash

Apa impianmu?

Apa tujuan hidupku? Apa impianku? Apa yang benar-benar ingin kulakukan di dunia ini?

Baca juga :   3 Pertanyaan yang Harus Dijawab Untuk Mengenali Diri Sendiri Lebih Baik

Rasanya menjawab pertanyaan tentang cita-cita atau impian lebih mudah ketika masih SD daripada ketika menginjak dewasa. Dulu ketika masih SD jawaban itu bisa diperoleh entah karena dibisikin orang tua, atau terinspirasi dari tokoh film atau buku yang dibaca. Sesederhana itu. Ketika dewasa, pertanyaan itu menjadi semakin rumit, harus menemukan terlebih dahulu minat, bakat, kemudian passion dkk. Tidak berhenti di situ, bahkan ketika sudah menemukan impian yang ingin diwujudkan, ada REALITA yang menghalangi. Bahkan bermimpi pun seakan-akan harus tahu diri terlebih dahulu. Pada akhirnya, ada banyak yang menyerah, impian menjadi mimpi belaka, dikubur dalam-dalam.

Sungguh tidak mudah! Pada titik tertentu, untuk menjawab mengenai tujuan hidup atau yang paling ingin dilakukan, kita juga dihadapkan dengan “kepentingan” orang lain. Terkadang, untuk menemukan jawabannya kita harus egois. Hal eksternal disingkirkan terlebih dahulu, seperti keinginan orang tua, demi anak dkk. Fokus pada diri sendiri. Fokus pada yang paling diinginkan, terlepas dari berbagai ekspektasi pihak lain.

“Sometimes you just need to be selfish and take care of you. If they love you, they’ll understand.” – Robert Tew

Apa tujuan hidupku?

Apa tujuan hidupku? Ketika pertanyaan itu muncul pada masa quarter life crisis, besar kemungkinan yang kamu rasakan adalah ketidaknyamanan. Banyak orang mengabaikan pertanyaan itu, berusaha sekuat tenaga mengalihkan perhatian agar perasaan tidak nyaman itu segera hilang. Alih-alih merenunginya, mereka memutuskan untuk mengabaikannya saja. Padahal itu merupakan kesempatan emas untuk mengenali diri sendiri.

“You’re a dangerous person if you know what you want and what you need.”

Selama ini memang kegiatan merenung atau kontemplasi seringkali diasosiasikan dengan kesalahan. Renungi kesalahanmu! Orang mulai merenung hanya setelah melakukan kesalahan. Padahal tidak begitu. Merenung juga dianggap sebagai kegiatan yang membosankan, oleh karenanya banyak yang menghindarinya. Padahal ada cara yang menyenangkan untuk merenung, seperti lewat traveling, nonton film, dan baca buku.

apa tujuan hidupku?

Sumber : Unsplash


Merupakan hal yang wajar mengalami kegelisahan akan arah hidup dan mempertanyakan tujuan hidup itu sendiri. Kiranya setiap orang akan mengalami hal itu pada satu titik tertentu. Ketika hal itu terjadi, hadapi dengan gagah berani ketidaknyaman dari munculnya pertanyaan itu. Kemudian renungi dan temukan jawabannya. Jangan terus kabur, mengabaikannya, mengalihkan perhatian, entah itu dengan scrolling instagram terus-terusan!

“Knowing yourself is a big thing.”

Tidak mudah memang. Namun, ketika kamu sudah mengenali dirimu sendiri dengan baik dan berhasil menemukan mengapa-mu, kamu akan menjadi pribadi yang luar biasa. Kamu memiliki pendirian yang teguh, tidak mudah goyah dan bodo amat dengan yang orang lain pikirkan. Kamu akan menjalani hidup ini dengan penuh makna. Sesungguhnya, mengenali diri sendiri merupakan pencapaian yang besar. Apa tujuan hidupku?

Baca juga :   Apakah Aku Bahagia?

 

Writer : Bayu Rakhmatullah 

Mari Berdiskusi