AKU DAN MIMPI

Impian

Sumber : Stocksnap

“Sesulit inikah dalam mewujudkan impianku ini?”

“Harus sejauh inikah aku dalam rangka meraih impianku?”

“Haruskah aku senekat ini?”

 

Begitulah keluh kesah temanku. Aku pernah mempertanyakan semua itu dan berada di masa-masa tersebut. Bunuh diri? Jangan bercanda, aku bisa memikirkannya lebih dari 100 kali tiap harinya di saat-saat seperti itu. Oleh karena itu, alih-alih meremehkan mimpi seseorang, alangkah baiknya kita mendukungnya untuk mewujudkan impiannya.

Setelah temanku bercerita padaku, aku kembali mempertanyakan hal tersebut pada diriku sendiriku.

 

“Harus sejauh inikah aku dalam rangka meraih impianku?”

“Haruskah aku menempuh belasan ribu kilometer menggunakan sepeda motor hanya untuk mewujudkan impianku?”

“Haruskah aku mengelilingi seluruh 34 provinsi di Indonesia selama 2 tahun ke depan hanya untuk menjadikan nyata impianku?

“Haruskah?”

 

Aku mengijinkan diriku sendiri untuk skeptis terhadap impianku sendiri. Alih-alih ragu, aku semakin yakin bahwa aku memang harus melakukan semua hal tersebut.

Memang benar bahwa perjalananku mengelilingi Indonesia dilakukan dalam rangka mewujudkan impian, namun di sisi lain aku malah mendapatkan begitu banyak hal selain impian itu sendiri. Aku dibuat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, sedikit demi sedikit.

Awalnya aku berada di jalan yang salah dan sesat. Namun aku tetap melewati jalan tersebut, meskipun aku sendiri tahu bahwa itu jalan yang salah. Sampai suatu ketika aku bertemu dengan teman komunitasku di tengah perjalananku. Dia membantuku menjadi pribadi yang baik. Bukan dengan cara yang memaksa atau menggurui, tapi begitu halus, sampai aku tidak sadar bahwa aku telah berubah menjadi yang lebih baik. Dia mengulurkan tangan tanpa kusadari bahwa aku sudah di jalan yang benar.

Pertemuanku dengan orang-orang baik dan hal-hal baik lainnya dalam perjalanan itulah yang membuatku terus semangat dalam mewujudkan impianku. Meskipun bukan yang utama, produk-produk sampingan tersebut mampu membuatku bertahan di saat-saat sulit. Selain itu, aku juga memiliki cara lain agar aku senantiasa semangat dan kuat di saat-saat sulit dalam mewujudkan mimpi, yaitu dengan cara melakukan hal yang disukai, atau dengan kata lain hobi. Nonton film, jalan-jalan, baca buku merupakan salah satu cara yang kulakukan agar senantiasa semangat menjalani hidup dan mewujudkan impian.

Beruntungnya sekali impianku tidak jauh-jauh dengan hobiku, sehingga dalam proses mewujudkannya aku merasa bahagia. Tentu saja ada duka dan penderitaan juga di dalamnya, tapi tak masalah. Aku memutuskan lebih baik menderita saat melakukan hal yang aku sukai, karena aku tahu betul bahwa melakukan hal yang tidak kuinginkan akan jauh lebih sulit dan menderita. “I like what I do, I do what I like,” begitulah moto hidupku. Terkesan tidak dewasa memang—maunya melakukan yang disukai saja—tapi itulah hidupku. Aku melakukan hal yang aku sukai. Aku mewujudkan impianku sendiri, bukan mimpi orang tua, teman, atau pun orang lain. Mimpiku sendiri.

Wajar sekali merasa kesulitan dalam mewujudkan mimpi. Wajar sekali merasa seperti kehilangan arah dalam hidup. Suatu hal yang lumrah menjadi ragu dan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti itu terhadap suatu impian, apalagi ketika berada dalam fase life quarter crisis sepertiku ini. Jika impianmu tak kunjung menjadi nyata, cobalah untuk berhenti sejenak, merenungi berbagai hal dan tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah benar ini adalah hal yang kusukai? Apakah benar ini adalah impian yang kuidam-idamkan? Tanyakan pada dirimu sendiri. Jika ya, maka lanjutkanlah dan jangan menyerah! Jika tidak, maka perlu revisi. Terkadang mimpi pun perlu direvisi.  

Aku tahu betul bahwa sulit memang dalam mewujudkan mimpi. Tapi, bukan mimpi namanya jika tidak sulit. Iya kan?

 

Writer : Bayu Rakhmatullah

Instagram : @rakhmatullahbayu and @petualanganbayu

2